Paus Fransiskus sebagai Person of The Year 2013 oleh majalah Time

Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Tampilkan postingan dengan label Injil Hari ini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Injil Hari ini. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 Juni 2014

Renungan Katolik Benih Sabda - 23 Juni 2014 BALOK… SERBUK KAYU

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (7:1-5)
    
"Keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri."
   
Dalam kotbah di bukit, Yesus berkata, “Janganlah menghakimi, supaya kalian tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang telah kalian pakai untuk menghakimi, kalian sendiri akan dihakimi. 

Dan ukuran yang kalian pakai untuk mengukur akan ditetapkan pada kalian sendiri. 

Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? 

Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu, ‘Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu’, padahal di dalam matamu sendiri ada balok? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu sendiri, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar dari mata saudaramu.”

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan Katolik Benih Sabda - 23 Juni 2014

BALOK… SERBUK KAYU

Mat 7:5 
“Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu 
balok kayu dari matamu, kemudian barulah
engkau dapat melihat dengan jelas 
untuk mengeluarkan serbuk kayu dari mata saudaramu."

Sabda Sang Guru ini sebaiknya diingat setiap orang
yang mengamati sesamanya demi menghakiminya.
Untuk mengeluarkan serbuk kayu dari mata orang lain,
diperlukan mata yang tidak terisi “balok”!

Jika tidak, aku tak mungkin mengoreksi orang itu.
Aku malah akan meneguhkannya dalam yang jahat.
Sebab marahku akan membuat dia membela diri.

Menegur orang lain, sungguh suatu perbuatan mulia.
Namun, sebelum menegur, aku sendiri harus menerimanya
tanpa syarat, sama seperti aku pun diterima tanpa syarat.
Jika demikian, nasihat akan diterima
sebab dirasakan sebagai teguran saudara yang mengasihi.

Mengkritik orang lain sebaiknya diganti 
dengan mengkritik diri sendiri.
Sebab dalam diriku bersarang banyak dosa
yang harus kupertanggungjawabkan kelak.
Allah itu maharahim, 
maka aku pun harus berbelas kasihan.
Belas kasihan menjadikan manusia solider
dengan setiap manusia dan Allah Bapa sendiri!

©SL 23 Juni 2014

Kamis, 19 Juni 2014

Renungan Harian Katolik Benih Sabda - 20 Juni 2014, SIMPANLAH… HARTA DI SURGA



Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:19-23)  
    

"Di mana hartamu berada, di situ pula hatimu."
    

Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 

Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. 

Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada. Mata adalah pelita tubuh. 

Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. 

Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.


Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Benih Sabda - 20 Juni 2014

SIMPANLAH… HARTA DI SURGA

Mat 6:20
“Tetapi simpanlah bagi dirimu harta di surga,
karena ngengat dan karat tidak dapat merusaknya
dan pencuri pun tidak dapat membongkar serta mencurinya.”

Siapa yang menyimpan bagi dirinya harta kekal?
Orang yang dengan syukur menerima pemberian Allah
dan berbagi pemberian itu dengan saudaranya.
Dengan cara ini, segala jenis harta duniawi,
yang menjamin kelangsungan hidup fisik,
mendapat nilai harta surgawi.
Sebab tidak disimpan bagi diri sendiri saja!

Kediaman kekal yang benar-benar harta,
diperjuangkan dan didapat di bumi ini.
Dengan cara apa?
Dengan cara menggunakannya secara benar,
bukan sebagai pemilik yang bodoh,
melainkan sebagai administrator yang bijaksana.
Nafsu memiliki adalah awal segala kejahatan.

Apa saja yang ada di bumi: makanan, pekaian, benda,
bahkan tubuh manusiawi, akhirnya rusak, hancur.
Hal yang sama berlaku buat apa yang dikumpulkan
lalu tidak pernah dibagikan dengan saudara.
Apa yang dibagi-bagikan, menciptakan benih kekekalan.

Semuanya yang tampak indah, menjadi biasa saja,
ketika manusia berusaha tidak memandang dunia ini saja.

©SL 20 Juni 2014

Selasa, 17 Juni 2014

Renungan Harian Katolik Benih Sabda - 18 Juni 2014 TANGAN KIRI… TANGAN KANAN

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (6:1-6.16-18)
  
"Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan mengganjar engkau."

Dalam khotbah di bukit, Yesus bersabda, "Hati-hatilah, jangan sampai melakukan kewajiban agamamu di depan orang supaya dilihat. Sebab jika demikian, kalian takkan memperoleh upah dari Bapamu yang di surga. 

Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang-orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya dipuji orang. Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya. 

Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah tangan kirimu tahu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." 

"Dan apabila kalian berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan di tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu, 'Mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi jikalau engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. 

Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." "Dan apabila kalian berpuasa, janganlah muram mukamu, seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. 

Aku berkata kepadamu, 'Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.' Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. 

Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan Harian Katolik Benih Sabda - 18 Juni 2014

TANGAN KIRI… TANGAN KANAN

Mat 6:3 
“Tetapi engkau, jangan sampai tangan kirimu tahu
apa yang diperbuat oleh tangan kananmu 
pada waktu engkau memberi sedekah.”

Di beberapa negara, kata-kata Sang Guru ini
telah menjadi pepatah: Perbuatlah demikian rupa,
supaya tangan kirimu jangan tahu
apa yang diperbuat oleh tangan kananmu!

Kata-kata ini jangan diartikan seolah-olah sedekah
harus dilakukan tanpa berefleksi terlebih dahulu!
Artinya sederhana: Jangan seorang sanakmu pun
tahu tentang sedekah Anda!
Artinya kedua: Alasan untuk memberi sedekah
hendaknya satu saja: Orang tertentu perlu ditolong!

Ada juga interpretasi lain lagi, yaitu:
Sedekah hendaknya diberikan tanpa bisa diperhatikan,
dengan satu tangan saja, sebab jika tidak demikian,
sedekah itu akan diketahui orang lain.

Memang, di zaman dulu, juga oleh umat Gereja,
tangan kiri dianggap kikir dan serakah.
Tetapi, lama kelamaan pendapat ini berubah…
Tangan kiri justru dianggap sahabat terdekat.

Maka, sabda ini boleh diartikan begini juga:
terhadap sahabat paling dekat sekalipun,
sedekah perlu diberi tanpa bisa dilihat olehnya.

©SL 18 Juni 2014

Senin, 16 Juni 2014

Renungan Katolik Benih Sabda - 17 Juni 2014


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:43-48)   
    
"Kasihilah musuh-musuhmu."
     
Dalam khotbah di bukit, Yesus berkata, “Kalian telah mendengar bahwa disabdakan, ‘Kasihilah sesamamu manusia, dan bencilah musuhmu’. 

Tetapi Aku berkata kepadamu, ‘Kasihilah musuh-musuhmu, dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kalian’. Karena dengan demikian kalian menjadi anak-anak Bapamu di surga. 

Sebab Ia membuat matahari-Nya terbit bagi orang yang jahat, dan juga bagi orang yang baik. Hujan pun diturunkan-Nya bagi orang yang benar dan juga bagi orang yang tidak benar. 

Apabila kalian mengasihi orang yang mengasihi kalian, apakah upahmu? 

Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? 

Dan apabila kalian hanya memberi salam kepada saudaramu saja, apakah lebihnya dari perbuatan orang lain?

 Bukankah orang yang tak mengenal Allah pun berbuat demikian? 

Karena itu kalian harus sempurna sebagaimana Bapamu di surga sempurna adanya.”

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.


Renungan Harian Katolik 
Benih Sabda - 17 Juni 2014

APA PAHALAMU?

Mat 5:46-47 
“Jika kamu hanya mengasihi orang yang mengasihi kamu,
apakah pahalamu? Bukankah pemungut cukai pun 
melakukan hal yang sama? Jika kamu hanya memberi salam 
kepada saudaramu, apa istimewanya perbuatanmu itu?”

Kasih yang benar selalulah cuma-cuma, gratis.
Jika ada pembayaran, kasih menguap, tidak ada. 
Dalam kasih yang dibayar, yang penting ialah
apa yang bisa diberikan orang lain kepadaku.

Orang Yahudi bicara tentang upah, pahala,
kalau Hukum dipraktikkan dengan sempurna.
Sang Guru bicara tentang ‘upah’ lain: 
Menjadi serupa dengan Bapanya, Sang Kasih,
yang tidak pernah mau dibayar, selalu memberi saja.

Mengasihi demi bisnis, mendapat sesuatu,
dipraktikkan oleh semua orang, juga para pendosa.
Ini serupa dengan prostitusi batiniah.
Namun, mengasihi musuh, adalah penyataan jelas
akan kasih Allah tanpa syarat.

Jika “Salam” disampaikan hanya kepada orang tertentu,
maka dia yang mengucapkannya, tidak mengenal Bapa.
Bapa yang di surga selalu mengucapkan salam kasih
kepada semua orang, yang baik maupun yang tidak baik.

Cukupkah sudah umat Gereja merenungkan sabda ini?

©SL 17 Juni 2014

Sabtu, 14 Juni 2014

Renungan Katolik Benih Sabda - 15 Juni 2014


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Yohanes (3:16-18)
   
"Allah mengutus Anak-Nya untuk menyelamatkan dunia."
      
Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata, “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.

Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; tetapi barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak tunggal Allah.” 

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
  

Renungan Katolik Benih Sabda - 15 Juni 2014

YANG PERCAYA, YANG TAK PERCAYA

Yoh 3:18
“Orang yang percaya kepada-Nya, tidak akan dihukum,
tetapi orang yang tidak percaya, telah berada di bawah hukuman,
sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.”

Orang yang sungguh melekat pada Sang Guru,
sungguh kudus dan benar juga.
Hidupnya sama dengan hidup Sang Putra,
sehingga ia ikut serta dalam kemuliaan Bapa dan Putra.

Lain halnya dengan orang yang tidak percaya…
Tidak percaya apa? Bahwa Sang Putra
selaku Anak Manusia membawa kasih total kepada dunia.
Maka, yang tidak percaya, mengucilkan dirinya
dari kasih dan hidup ilahi.
Tidak melekat pada Sang Guru,
sama dengan menyangkal dirinya sebagai anak Allah.

Ya, keputusan untuk percaya akan Sang Guru
menjadikan manusia lahir “dari atas”.
Inilah yang menjadi masalah Nikodemus,
tetapi sampai sekarang menjadi masalah tiap orang.

Manusia harus memilih: merangkul pahamnya sendiri
atau dengan rendah hati menerima
apa yang diwahyukan Allah melalui Anak-Nya.

Allah telah menjadi sejarah. Ia berdaging manusiawi!
Betapa pentingnya masing-masing manusia-daging
menyatakan kebenaran yang menyelamatkan ini!

©SL 15 Juni 2014

Rabu, 11 Juni 2014

Renungan Katolik Benih Sabda - 12 Juni 2014 BERDAMAI DENGAN LAWANMU

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:20-26)
   
"Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum."
   
Dalam khotbah di bukit, berkatalah Yesus, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. 

Kalian telah mendengar apa yang disabdakan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. 

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum! Barangsiapa berkata kepada saudaranya: ‘Kafir!’ harus dihadapkan ke mahkamah agama, dan siapa yang berkata: ‘Jahil!’ harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. 

Sebab itu jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah, dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. 

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dia di tengah jalan, supaya lawanmu jangan menyerahkan engkau kepada hakim, dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya, dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. 

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar utangmu sampai lunas.”


Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!



Renungan Katolik Benih Sabda - 12 Juni 2014

BERDAMAI DENGAN LAWANMU

Mat 5:25 
“Segeralah berdamai dengan lawanmu 
selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, 
supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau 
kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau 
kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.”

Sabda ini diucapkan Sang Guru
pada saat ia berbicara tentang persembahan
yang tidak sinkron dengan kasih kepada sesama.
Sungguh tidak masuk di akal menyembah altar,
dan serentak bermusuhan dengan saudara.

Padahal, kiranya banyak orang rajin beribadat,
tetapi lebih rajin lagi menyakiti orang yang terdekat.
Dalam kitab Imamat pun sudah tertulis
bahwa persembahan bisa batal
jika manusia bersalah terhadap Allah.

“Pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu!”
Sebab tidak adanya kasih kepada saudara pun
menjadikan persembahan tidak bernilai.
Kebencian menghancurkan kasih
dan mengantarkan manusia kepada pembunuhan.

Dengan cara ini Sang Guru menyentuh buruknya dosa
hingga akarnya, yaitu hati. Tak cukup berhenti membenci.
Yang harus diusahakan ialah berdamai, berekonsiliasi.
Kasih saja menjadikan manusia anak Allah.

©SL 12 Juni 2014

Selasa, 10 Juni 2014

Renungan Harian Katolik Benih Sabda - 11 Juni 2014 MASUK KOTA… RUMAH


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (10:7-13)
     
"Kamu telah menerima dengan cuma-cuma; karena itu berilah dengan cuma-cuma pula."
    
Sekali peristiwa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, "Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat.

Sembuhkanlah orang-orang sakit, bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta, usirlah setan-setan! Kamu telah menerima dengan cuma-cuma; karena itu berilah dengan cuma-cuma pula!

Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.

Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang yang layak, dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.

Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka. Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke atasnya; jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan Harian Katolik Benih Sabda - 11 Juni 2014

MASUK KOTA… RUMAH

Mat 10:11-13
“Apabila kamu masuk kota atau desa, carilah di situ seorang
yang layak dan tinggallah padanya sampai kamu berangkat.

Dalam menjalankan tugasnya di kota ataupun desa,
para utusan Sang Guru memerlukan tempat tinggal.
Menurut petunjuk Sang Guru,
mereka harus berhati-hati
dalam memilih rumah tinggal sementara.

Maka, setelah sampai, mereka perlu mencari tahu
siapa yang “layak” menerima utusan Sang Guru.

Yang “layak” bukan orang saleh ataupun tokoh agama,
melainkan orang yang dengan tulus menerima tamu.
Sebab yang terbuka terhadap tamu,
terbuka pula terhadap pribadi yang mengutus rasulnya.
Menerima rasul senilai menerima Sang Guru sendiri.
Dengan menerima rasul, pemilik rumah menjadi ‘layak’.

Lalu ditegaskan bahwa rasul harus tinggal
di rumah yang menerimanya
hingga hari keberangkatannya.
Mengapa hal ini sungguh diingat sehingga dicatat?
Mungkin karena pengalaman pahit rasul-rasul tertentu.

Rasul jangan mencari tempat yang nyaman
dan jangan pula memberi kesan ia tidak betah.
Sebagai utusan Tuhan, sendiri, ia harus hidup sederhana.

©SL 11 Juni 2014

Minggu, 08 Juni 2014

Renungan Katolik Benih Sabda - 9 Juni 2014 YANG SUCI HATINYA

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (5:1-12)
   
"Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah."
    
Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit, sebab melihat orang banyak. Setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. 

Lalu Yesus mulai berbicara dan menyampaikan ajaran ini kepada mereka, "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. 

Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. 

Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan. Berbahagialah orang yang murah hati, karena mereka akan beroleh kemurahan. 

Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah. Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah. 

Berbahagialah orang yang dianiaya demi kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. 

Berbahagialah kalian, jika demi Aku kalian dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. 

Bersukacitalah dan bergembiralah, sebab besarlah ganjaranmu di surga, sebab para nabi sebelum kalian pun telah dianiaya."

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!
   


Renungan Katolik Benih Sabda - 9 Juni 2014

YANG SUCI HATINYA

Mat 5:8 
Berbahagialah mereka yang suci hatinya, 
karena mereka akan melihat Allah.

Sabda bahagia ini jangan dibaca sebagai saran
untuk tidak memasuki hidup perkawinan 
demi mempertahankan kesucian hati.

Suci hati berarti memiliki hati yang transparan,
tidak bermuka dua,
menghindari kebohongan yang terkecil sekalipun.
Luarnya manusia yang berhati suci
selalu sama dengan batinnya.

Orang berhati suci jujur tentang dirinya,
senantiasa merindukan dan mencari Terang Allah.
Kata YA baginya selalu YA artinya,
dan kata TIDAK baginya selalu berarti TIDAK.

Mudahkah mengenal orang berhati suci?
Mudah! Sebab motivasinya tidak pernah ‘bengkok’.
Ia tidak mencari akal untuk membangun citranya.
Ia tak pernah membiarkan dirinya
dibimbing oleh kepentingan pribadi.

Pikirannya yang utama satu saja,
yaitu: Bagaimana aku dapat menyenangkan Tuhan?
Maka, hatinya ‘melihat Allah’. Allah yang tak dapat dilihat,
dialami oleh hati suci. Kehadiran-Nya dirasakan.

©SL 9 Juni 2014