Simak foto-fotonya:


Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013
Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku
Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.
Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.
Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.
Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.
Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.


Percakapan 2 Generasi dalam Keluarga Katolik.
(terinspirasi dari kasus nyata)
Anak : Pah, saya boleh tidak menikah dengan si A.
Bapak : Lho bukankah kamu beda iman?, terus nanti pernikahannya dengan cara apa?
Anak : Ya dengan cara agamanya A.
Bapak : Lho, kamu laki-laki dengan mudahnya mengatakan begitu?. Kamu kan calon imam keluarga.
Anak : Mau bagaimana lagi?, dia dan keluarganya tidak mau memakai cara katolik. Apalagi pernikahan di Gereja katolik terlalu ribet.
Bapak : Ribetnya mengurus pernikahan di Gereja Katolik tidak ada apa-apanya dibanding ribetnya nanti setelah kamu menikah. Dan lebih berat lagi dalam mempertahankan perkawinan. Kalau kamu tidak mau ribet, ya kamu belum layak menikah dan jadi seorang kepala rumah tangga.Bukankah ribetnya mengurus macam ini dan itu tentang surat-surat penting keluarga nanti itu juga tanggung jawabmu?
Anak : Kan nanti kami bisa ke tetap pada iman masing-masing.
Bapak : Yakin kamu dengan ucapanmu? Saat ini saja kamu tidak mampu berjuang demi iman kamu, apalagi nanti jika kamu sudah menikah.Barang siapa menikah dengan beda iman, maka tanggung jawabnya jadi 2 kali lebih berat. Banyak kasus yang mula-mula baik baik saja, tetapi setelah berlangsungnya waktu maka salah satu bisa mengingkari komitmen awal.
Anak : jika ikut agama A kan menurut Gereja Katolik di agama lain juga ada kebenaran.
Bapak : Ada kebenaran bukan berarti seluruh kebenaran ada di sana, kalau masalah itu dalam diri seorang penjahat juga ada benarnya. Tapi keseluruhan kebenaran dan Rahmat pengudusan hanya ada di Gereja katolik.
Anak : Tapi bukankah orang yang karena ketidaktahuan akan Kristus asal hidup dengan hati nuraninya juga diselamatkan.
Bapak : kamu diluar konteks itu. Kamu sudah tahu Kebenaran Kristus dan sudah dibaptis dengan nama Tritunggal, maka jika kamu meninggalkan itu ,maka kamu termasuk menghujat Roh Kudus.
Tahu tho konsekuensinya?.
Jika kamu sengsara di dunia maka aku masih bisa menghibur, jika kamu kekurangan materi mungkin saya masih bisa membantumu, tapi jika kamu sengsara di alam baka, saya bisa apa? Yang ada hanya penyesalan. Mau kamu membuat percobaan? Hidup itu sekali maka jika kita sudah meninggal tidak bisa lagi diulang.
Dan diluar itu saya harus mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah dan manusia.
Makanya, kalau sudah tahu ada halangan mengapa rasa itu kamu pelihara? Kalau kamu mengatakan tidak bisa lagi berpisah dengan dia, apa dia akan bersamamu selama hidupmu?.
Suatu saat dia akan diambil dari padamu, suatu saat juga dia bisa tidak setia kepadamu dan minta berpisah denganmu bukan?. Karena didunia ini hanya Allah yang kekal dengan kesetiaan.
Maaf dalam kasus ini saya sebagai bapak juga salah, karena saya sampai kecolongan dengan kasus pendekataanmu dengan dia walaupun kamu berada jauh dari kampung halaman.
Selamat untuk merefleksikan terutama buat yang punya anak ABG maupun dewasa dan juga bagi OMK yang sudah siap menikah.
Berkah Dalem.
WAJAH KEMANUSIAAN YANG TERLUKA
oleh I Suharyo
Kompas, 24 Maret 2016
Dalam artikel berjudul "Zaman Edan" (Kompas, Minggu, 20 Maret 2016) diceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Ayak, berusia 18 tahun, yang bernasib malang.
Dia kehilangan kedua orangtuanya ketika pemberontak menyerang desanya di Sudan. Ketika berusaha menyelamatkan diri, Ayak ditangkap pemberontak dan diperkosa ramai-ramai. Karena itu, ia hamil dan mengidap HIV. Meskipun demikian, ia siap memelihara anaknya yang selanjutnya menjadi satu-satunya anggota keluarganya.
Ada sekian banyak kisah tentang kemanusiaan yang terluka ketika martabat manusia direndahkan serta hak-hak dasarnya disangkal demi kekuasaan, uang, dan berbagai kepentingan lainnya. Meskipun kehormatannya dicederai, Ayak tampil sebagai pribadi yang sungguh-sungguh bermartabat. Sementara mereka yang tampaknya berkuasa, sebenarnya menyandang luka-luka kemanusiaan yang bernanah.
Luka kemanusiaan
Luka-luka kemanusiaan seperti itu merupakan salah satu unsur dominan yang mewarnai Pekan Suci yang setiap tahun dirayakan umat Kristiani.
Pada Minggu, 20 Maret 2016, Pekan Suci dimulai. Dalam Ibadah Sabda dibacakan Kisah Sengsara Yesus (Lukas 22: 63-23: 56). Luka-luka ini tampak dalam beberapa episode, misalnya dalam diri orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-oloknya, menutupi matanya, kemudian memukulnya sambil bertanya, "Coba katakan, siapakah yang memukul engkau?"
Mereka adalah orang-orang bawahan yang biasa tidak dihargai, direndahkan, dan harus melakukan kehendak yang punya kuasa atas mereka. Ketika ada kesempatan, luka-luka mereka tampak dalam kekerasan yang mereka lakukan, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka juga punya kekuasaan.
Luka-luka seperti itu tidak hanya tampak dalam orang-orang bawahan, tetapi juga dalam diri pembesar, seperti para anggota Mahkamah Agama, Pilatus, dan Herodes. Dengan ringannya, tanpa perasaan bersalah sedikit pun, mereka mendakwa Yesus dengan dakwaan dan-tentu saja-saksi-saksi palsu.
Merendahkan martabat
Demikian juga Pilatus. Ia mempunyai wewenang penuh untuk membebaskan Yesus, tetapi tidak melakukannya karena kepentingan pribadinya.
Sementara itu, Herodes Antipas menunjukkan luka jenis lain lagi. Herodes secara harfiah berarti mulia, tetapi kelakuannya sama sekali tidak mulia. Ia, antara lain, menceraikan istrinya dan merebut istri saudaranya yang bernama Herodes Philipus.
Yang ia lakukan terhadap Yesus sama sekali tidak menunjukkan wibawanya sebagai pemimpin. Sebaliknya yang terungkap adalah luka-luka batinnya. Tokoh-tokoh ini semua sadar atau tidak sadar merendahkan martabat mereka sendiri.
Di dalam kisah selanjutnya (Lukas 23: 33-43) ditampilkan konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka dan kemanusiaan yang sejati secara amat indah. Konfrontasi ini terasa dalam dialog antara dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan Yesus yang tergantung di salib. Luka-luka kemanusiaan terbaca dalam kata-kata salah seorang penjahat yang, ketika tergantung di salib, masih menghujat dan berkata, "Bukankah engkau adalah Kristus? Selamatkanlah dirimu dan kami!"
Penjahat yang satu lagi mengungkap luka-luka kemanusiaan yang sama, tetapi dalam proses disembuhkan. Ia berkata kepada kawannya, "Kita layak dihukum sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah".
Dalam saat-saat yang sangat menentukan, terjadi konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka yang diwakili oleh penjahat yang menghujat dan kemanusiaan sejati yang tampak dalam diri Yesus yang diam. Dalam diri penjahat yang lain, konfrontasi ini menyadarkan dirinya bahwa ada kemanusiaan yang berwajah lain. Lebih daripada itu, konfrontasi ini juga menggerakkan proses transformasi dalam dirinya. Buahnya terungkap dalam kata-kata yang ditujukan dengan tulus kepada Yesus yang tergantung di salib, "Yesus, ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja". Luka-lukanya disembuhkan dan ia menjadi sahabat dalam penderitaan.
Tahun ini, umat Katolik merayakan Paskah ketika Gereja sedunia merayakan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Logo yang diciptakan dalam rangka Tahun Suci ini menyampaikan pesan amat kuat mengenai luka-luka kemanusiaan. Logo itu menggambarkan Yesus yang menggendong seseorang di bahunya. Luka-luka yang tergambar jelas pada kedua kaki dan tangan Yesus menjadi lambang luka-luka kemanusiaan dengan berbagai macam wajahnya.
Mata belas kasih
Salah satu mata dari orang yang digendong tidak tampak, berada di belakang mata Yesus sehingga, meskipun ada dua orang, mata yang tergambar hanya tiga. Pesannya jelas, yaitu agar umat Kristiani memandang luka-luka kemanusiaan itu dengan mata Yesus, yaitu mata yang berbelas kasih, mata yang berbela rasa, mata yang mencerminkan wajah Allah yang Maharahim dan menyembuhkan.
Berita sehari-hari yang termuat dalam koran dan disiarkan oleh radio dan televisi mengajak kita untuk menyadari dengan jujur bahwa banyak luka kemanusiaan dengan berbagai wajahnya, baik secara terbuka maupun tersembunyi, ada di tengah-tengah kehidupan bersama kita sebagai bangsa.
Luka-luka itu bisa disebabkan oleh peristiwa-peristiwa getir di masa lampau ataupun di masa sekarang. Semoga perayaan Pekan Suci yang berpuncak pada Paskah menyadarkan umat Kristiani akan adanya luka-luka itu dan memahaminya dengan mata bela rasa.
Dan semoga kesadaran ini mendorong terjadinya proses penyembuhan bukan hanya penyembuhan pribadi, melainkan juga penyembuhan kolektif. Selamat merayakan Pekan Suci.
I SUHARYO
Uskup Keuskupan Agung Jakarta
TIDAK MUDAH JADI SUAMI
Belajarlah dari Josep
(RD Josep Susanto)
Yang saya maksud adalah Santo Josep yang pestanya akan kita rayakan setiap tanggal 19 Maret.
Saya tergelitik untuk membahas Matius 1:19-20
19. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud MENCERAIKANNYA dengan diam-diam.
20. Tetapi ketika ia MEMPERTIMBANGKAN maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi.....
Jujur, saya tidak pernah sepenuhnya membayangkan apa yang dipikirkan/dirasakan oleh para suami.
Cuma satu hal yang bisa saya perhatikan dari para suami yang saya kenal, yaitu: SUNGGUH TIDAK MUDAH MENJADI SEORANG SUAMI (YANG BAIK DAN SETIA).
Kadang saya kasihan dengan suami-suami ini ketika harus menanggung tanggungjawab yang luar biasa berat.
Meski katanya laki-laki selalu pakai rasionya dalam berpikir dan bertindak, tetapi saya yakin laki-laki pasti juga punya hati dan perasaan. Cuma kadang laki-laki tidak pintar dalam menggunakan perasaannya.
Suami adalah kepala keluarga.
Sudah selayaknya ia dihormati, didengar, dihargai dan diakui sebagai pemimpin di dalam rumah tangga.
Tetapi kadang istri, anak-anak, (juga kadang mertua) tidak bisa menunjukkan hal itu dengan baik.
Setahun dua tahun mungkin seorang suami yang tidak dihargai masih bisa bertahan. Tetapi entah sampai berapa lama ia sanggup bertahan.
Dan parahnya, para suami tidak punya teman untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan itu.
Kalau ia cerita kepada orang lain (teman-temannya), harga dirinya pasti akan hancur seketika karena akan dianggap rendah oleh mereka. Kadang gengsinya lebih kuat di atas perasaannya.
Dan kalau ia bercerita kepada ORANG YANG SALAH, ia akan masuk ke jurang yang disebut orang "perselingkuhan."
Para suami juga manusia biasa, kadang bisa salah dalam bertindak, bertutur kata, ataupun dalam menggambil keputusan.
Tidak selamanya para suami ada di puncak:
Terkadang mereka juga harus menerima kenyataan aliran rejekinya sedang kering, berada di bawah dan terpuruk.
Terkadang egonya sebagai laki-laki membakar pikiran, kata-kata dan tindakannya.
Terkadang ia tidak tahan dengan sikap dan perlakuan istrinya yang sudah dipendam sekian lamanya.
Terkadang ia harus berhadapan pada ketidakmampuan dan keterbatasannya sendiri dalam membahagiakan istri dan mendidik anak-anaknya.
Sungguh sebuah siksaan ketika suami menyadari hal itu dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Terkadang ia hanya bertahan pasrah, mencoba hanya diam, hanya karena tidak mau saling menyakiti.
Untuk para suami, belajarlah dari Santo Josep, laki-laki yang berjuang sekuat tenaga untuk baik dan setia.
Santo Josep pun sama seperti Anda,
ia berjuang keras untuk memahami,
dan menerima kenyataan yang sulit diterimanya.
Santo Josep pun sama seperti Anda, mencari jalan keluar manusawi yang terbaik sejauh yang ia mampu pikirkan (pergi/menceraikan Maria diam-diam), asal ia tidak menyakiti Maria.
Tetapi ada 1 hal yang membedakan Santo Josep dari para suami kebanyakan:
Ia melibatkan Tuhan,
Ia mempertimbangkan segala sesuatu bersama Tuhan,
Tuhan menyadarkannya pada TUGAS UTAMA yang dipercayakan Tuhan kepadanya, yaitu Melindungi Keluarga Kudus Nazaret.
Dan Santo Josep menjalani tugas itu dengan segala resikonya, sampai ia menutup mata.
Untuk para istri,
Hormati, sayangi, hargai suamimu,
selagi ia masih berada di sisimu.
Santo Josep, Pelindung Keluarga Kudus, DOAKANLAH KAMI.
Selamat Pesta Santo Josep
Sabtu, 19 Maret.