Selasa, 17 Mei 2016

Percakapan 2 Generasi dalam Keluarga Katolik. (terinspirasi dari kasus nyata)

Percakapan 2 Generasi dalam Keluarga Katolik.
(terinspirasi dari kasus nyata)

Anak : Pah, saya boleh tidak menikah dengan si A.

Bapak : Lho bukankah kamu beda iman?, terus nanti pernikahannya dengan cara apa?

Anak : Ya dengan cara agamanya A.

Bapak : Lho, kamu laki-laki dengan mudahnya mengatakan begitu?. Kamu kan calon imam keluarga.

Anak : Mau bagaimana lagi?, dia dan keluarganya tidak mau memakai cara katolik. Apalagi pernikahan di Gereja katolik terlalu ribet.

Bapak : Ribetnya mengurus pernikahan di Gereja Katolik tidak  ada apa-apanya dibanding ribetnya nanti setelah kamu menikah. Dan lebih berat lagi dalam mempertahankan perkawinan. Kalau kamu tidak mau ribet, ya kamu belum layak menikah dan jadi seorang kepala rumah tangga.Bukankah ribetnya mengurus macam ini dan itu   tentang surat-surat penting keluarga  nanti itu juga tanggung jawabmu?

Anak : Kan nanti kami bisa ke tetap pada iman masing-masing.

Bapak : Yakin kamu dengan ucapanmu? Saat ini saja kamu tidak mampu berjuang demi iman kamu, apalagi nanti jika kamu sudah menikah.Barang siapa menikah dengan beda iman, maka tanggung jawabnya jadi 2 kali lebih berat. Banyak kasus yang mula-mula baik baik saja, tetapi setelah berlangsungnya waktu maka salah satu bisa mengingkari komitmen awal.

Anak : jika ikut agama A kan menurut Gereja Katolik di agama lain juga ada kebenaran.

Bapak : Ada kebenaran bukan berarti  seluruh kebenaran  ada di sana, kalau masalah itu dalam diri seorang penjahat  juga ada benarnya. Tapi keseluruhan kebenaran dan Rahmat pengudusan hanya ada di Gereja katolik.

Anak : Tapi bukankah orang yang karena ketidaktahuan akan Kristus asal hidup dengan hati nuraninya juga diselamatkan.

Bapak : kamu diluar konteks itu. Kamu sudah tahu Kebenaran Kristus dan sudah dibaptis dengan nama Tritunggal, maka jika kamu meninggalkan itu ,maka kamu termasuk menghujat Roh Kudus.

Tahu tho konsekuensinya?.

Jika kamu sengsara di dunia maka aku masih bisa menghibur, jika kamu kekurangan materi mungkin saya masih bisa membantumu, tapi jika kamu sengsara di alam baka, saya bisa apa? Yang ada hanya penyesalan. Mau kamu membuat percobaan? Hidup itu sekali maka jika kita sudah meninggal tidak bisa lagi diulang.

Dan diluar itu saya harus mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah dan manusia.

Makanya, kalau sudah tahu ada halangan mengapa rasa itu kamu pelihara? Kalau kamu mengatakan tidak bisa lagi berpisah dengan dia, apa dia akan bersamamu selama hidupmu?.

Suatu saat dia akan diambil dari padamu, suatu saat juga dia bisa tidak setia kepadamu dan minta berpisah denganmu bukan?. Karena didunia ini hanya Allah yang kekal dengan  kesetiaan.

Maaf dalam kasus ini saya sebagai bapak juga salah, karena saya sampai kecolongan dengan kasus pendekataanmu dengan dia walaupun kamu berada jauh dari kampung halaman.

Selamat untuk merefleksikan terutama buat yang  punya anak ABG maupun dewasa dan juga bagi OMK yang sudah siap menikah.

Berkah Dalem.

3 komentar:

  1. Terimakasih atas pencerahannya,itu sangat bermanfaat bagi kita.
    God bless you

    BalasHapus
  2. Situasi yg sedang sy alami skrg.. :(

    BalasHapus
  3. nice information about young people

    BalasHapus