Paus Fransiskus sebagai Person of The Year 2013 oleh majalah Time

Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Sabtu, 25 April 2015

Inspirasi Kotbah Minggu 26 April 2015 (RD Josep Susanto)

Yesus Sang Gembala, Pola Relasi Dan Sumber KekuatanNya. 

Perhatikan kata MENYERAHKAN NYAWA" terulang sampai 3x:  di awal,  di tengah dan di akhir.

Berarti itu penting dan pasti ada 1 pesan tersembunyi kalau kita membacanya sambil ikut petunjuk dari pola tersebut. 

Mari kita bongkar. 

Kemunculan pertama di ay.  11 Yesus memperkenalkan diriNya sebagai GEMBALA YANG BAIK, yang memberikan nyawanya bagi domba2. 

Untuk memperjelas identitas diriNya, Yesus membedakan diriNya dari seorang upahan. 
1. Dia bukan upahan (PEMILIK DOMBA)
2. Dia tidak meninggalkan dombaNya ketika bahaya datang (SELALU HADIR BERSAMA DOMBA)
3. Dia menjaga jangan sampai domba tercerai berai (PEMERSATU) ay. 12
4. Yesus memperhatikan nasib domba-domba (PEDULI)  ay. 13 

Kemunculan kata "menyerahkan nyawa" yg kedua dan ketiga unik,  karena di situ figur BAPA selalu muncul menyertai.

Kemunculan kedua bicara soal POLA RELASI Gembala dan Domba ternyata mengikuti pola relasi YESUS dan BAPA.  Relasi itu tercipta dari MENGENAL PRIBADI dan jg MENGENAL SUARA (ajaran,  sabda,  Firman)  

Kemunculan ketiga bicara soal SUMBER KEKUATAN seorang gembala.  Lagi-lagi kekuatan relasi, cinta,  pengorbanan Gembala berasal dari BAPA.

Figur Bapa sangat penting di sini karena dlm PL (mazmur,  nabi2)  Allah adalah Gembala bagi Israel, kawanan dombaNya. Simbol Kegembalaan dlm PL digunakan untuk mengungkap PENYERTAAN/KEHADIRAN ALLAH DI TENGAH UMATNYA.  Tindakan Allah persis seperti 4 ciri yang diungkap Yesus di atas. 

Yesus menerima tugas dari Bapa sebagai Gembala ay. 18.
Artinya figur Yesus sebagai gembala MEMPERJELAS dan MELANJUTKAN peran penyertaan Allah kepada umatNya.

Selasa, 17 Februari 2015

Setitik Abu


(Doa dan Renungan Hari Rabu Abu)

Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC

Bapaku yang baik,

Hari Rabu Abu ini, Engkau goreskan  setitik abu di dahiku.

Setitik abu di dahiku  itu tiada bermakna jika tanpa ditopang  dengan iman.

Tanpa iman, abu itu hanya seperti hiasan para badut yang tak lucu .

Dengan iman, setitik abu itu dahsyat, mampu membuka pikiran dan menyadarkan jiwa.

Pikiran dan mata jiwaku terbuka bahwa  hidupku di dunia ini akan berakhir.

Siapkah kini aku menghadap kepadaMu jika Engkau memanggilku ?


Setitik abu itu membuatku rela untuk  menyerahkan hatiku kepadaMu.
Biarlah Engkau membelahnya.

Mataku pun terbelalak karena  tersingkap  banyak dosaku.

Hatiku pilu karena malu.

Hatiku sedih karena telah melukai..

Aku pun mengakui segala dosa dan kesalahanku dihadapanMu.


Setitik abu di dahiku ini telah mengubah hidupku.

Hidupku  menjadi berarti  karena ada tangan-Mu yang siap mengampuni.

Pengampunan-Mu merupakan wujud dari  kasih-Mu.

Kasih-Mu  meresap di dalam hati.

Kasih-Mu memantapkan hati untuk lebih berhat-hati agar tidak jatuh lagi.

Lalu kata Yesus: "Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang" (Yohanes 8:11).

Kamis, 22 Januari 2015

Merayakan Imlek yg jatuh bertepatan dgn Hari Rabu Abu

Para Pastor, Bp, Ibu Ytk

Bersama ini kami teruskan Surat Vikjen dan lampiran ttg usul bagi umat beriman dalam menghormati dan merayakan Imlek (19 Februari 2015) yang malam perayaannya bertepatan dengan hari Rabu Abu (18 Februari 2015).
Usulan untuk disampaikan kepada Umat beriman yang masih Menghormati dan Merayakan Imlek

Bagaimana menjawab pertanyaan umat tentang Rabu Abu yang bertepatan dengan malam tahun baru Imlek 2015?

1. Dialog dengan Budaya Tionghoa

Gereja Katolik sangat mendukung makna peristiwa budaya Imlek yang masih dihayati oleh sebagian orang Tionghoa yang beragama Katolik. Ada makna hormat kepada Tuhan, leluhur dan sesama manusia (yang lebih tua), Syukur, persaudaraan, berbagi dan solidaritas terhadap sesama yang menderita. Berbicara tentang malam Imlek, ada berbagai kebiasaan bagi penganut agama Konfusianisme. Ada yang berkumpul bersama keluarga di Rumah untuk berdoa kepada Tien (Tuhan) bersyukur atas tahun yang berlalu dan mohon bimbingan untuk ditahun mendatang. Sepanjang pengetahuan yang amat terbatas, biasanya orang Tionghoa pada malam itu ciacay tidak makan makanan yang berjiwa (Daging dll). Maksudnya adalah supaya membersihkan diri dalam rangka menyambut tahun baru Imlek. Saling mengucapkan selamat tahun baru dilakukan pada hari raya Imlek (tgl 19 Feb 2015, keesokan hari) setelah sembayang di Klenteng-klenteng dan berbagi rezeki kepada kaum papa. Biasanya merayakan Imlek sambil makan-makan bersama keluarga besar di rumah orang tuanya (anak tertua kalau orang tuanya sudah meninggal) dan berbagi Angpao.

Mengenai kebiasaan makan bersama dengan keluarga di malam Imlek, tidak diketahui kapan kebiasaan itu muncul (perlu pengkajian lebih lanjut).

2. Usulan Solusinya :

Diharapkan umat beriman mempertimbangkan dialog dengan budaya Tionghoa ini. Semoga umat beriman semakin dewasa dalam memilah mana yang bermakna dari suatu ajaran Gereja dan Budaya. Oleh karena itu kami menawarkan arahan sebagai berikut, Rabu Abu, tgl 18 Febuari 2015 tetap berjala

mlek dirayakan  pada keesokan harinya. Umat tetap berpuasa dan pantang. Makan kenyangnya di malam Imlek bersama keluarga dengan pantang Daging, atau Rokok atau ikan atau Jajan, silahkan umat berdiskresi sendiri. Pada hari raya Imlek umat beriman bisa makan bersama keluarga dalam persaudaraan setelah beribadah.

Semoga arahan dari Romo Vikjen mengenai Imlek ini dapat diteruskan kepada teman2 yg lain.

Minggu, 14 September 2014

Bunda yang berdukacita

Diperingati setiap tgl. 15 September

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
     
 Hari ini Gereja Katolik memperingati Peringatan Wajib Santa Perawan Maria yang Berdukacita. Apa maksudnya? Mengapa wajib diperingati? 

Sebagai seorang manusia yang lahir dari rahim seorang ibu, tentu kita akan mengignat ibu kita, terlebih penderitaan ibu kita sendiri. Adakah seorang anak yang tega membiarkan ibunya menderita, atau setidak-tidaknya tidak ambil pusing dengan penderitaan ibu sendiri? 

Orang yang baik dan setia pada Yesus tidak akan melakukan hal  yang demikian. Pokok permasalahannya ialah, sebagai umat beriman, tentu Bunda Maria menjadi Bunda kita semua oleh karena Yesus telah menjadi penebus bagi semua orang. 

Injil memberitakan bagaimana ramalan nabi Simeon terhadap bunda Maria. Simeon mengatakan bahwa “..suatu pedang akan jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).  

Pernahkah terbayang, seorang ibu yang hendak bersukacita akan kelahiran anaknya sendiri harus mendengar “berita miris” bahwa anak yang akan dikandung justru menimbulkan perbantahan dan menembus hati sendiri? Rasa takut, cemas, dan mengerikan akan begitu meliputi. Itulah yang mungkin dirasakan oleh Bunda Maria.

Yesus harus mengalami penderitaan ditolak oleh orang – orang sekitar, namun terlebih memuncak saat penderitaan-Nya di salib, sebuah “ke-martiran” fisik demi teusan banyak orang. Bagaimana dengan Bunda Maria? 

Bunda Maria harus menjadi “martir” dalam hatinya sendiri, sebab penderitaan hati-nya sebagai seorang ibu begitu dahsyat diatas penderitaan hati orang lain. Seorang ibu yang justru siap menerima ramala Simeon yang sungguh mengejutkan, justru mengajarkan bagaimana kita belajar dari sosok Sang Bunda untuk setia kepada Yesus hingga sampai di kaki salib sekalipun hati sungguh sedih dan menderita. Bunda Maria tetap setia kepada Yesus apapun yang terjadi, dan Bunda Maria menyimpan semua perkara yang tak mudah itu di dalam hatinya, namun dngan kasih keibuannya dan kepercayaan akan rencana Allah kemartiran nya dalam hati harus diterima. 

Demikian kita, harus menerima semua hal dalam kehidupan dan siap untuk mengolah apapun yang terjadi, karena Bunda Maria telah menjadi ibu yang memberikan kekuatan hati untuk tetap setia pada perkara hati yang tidak mudah
  
RENUNGAN OLEH: DEUS PROVIDEBIT


Lukisan "Maria, berduka cita" di dinding Gereja Santo Stefano Rotondo, Roma


1. Lihat bunda yang berduka di depan salib Sang Put'ra;air mata bergenang. O betapa jiwa ibu tersedu menanggung pilu,bagai ditembus pedang

2. Bunda Put'ra Tunggal Allah disebut "yang berbahagia"kini sangat bersedih. Hatinya dirundung duka,kar'na Put'ra yang termulia bersengsara di salib.

3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisiPut'ranya? Dan siapa tak tergugah menyelami duka bundaDalam siksa Anaknya?

4. Dilihatnya Yesus, Put'ra, yang tersiksa dan terlukakar'na dosa umatNya dan bergumul sendirianmenghadapi kematian menyerahkan nyawaNya.

5. Wahai bunda, sumber kasih, biar turut kuhayatidukamu yang mencekam; biar hatiku bernyala mengasihiPut'ra Allah dan padaNya berkenan.

6. Biarlah sengsara aib dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;yang ditanggungNya bagiku kudekap bersamamu.

7. Biar aku disampingmu pilu kar'na wafat Kristusdi sepanjang hidupku; inilah keinginanku:di dekat salib Put'ramu besertamu tersedu.

8. O perawan yang terpilih, perkenankan aku iniikut dikau bersedih; biar kematian Tuhandan darahNya yang tercurah kukenangkan tak henti.

9. Biar aku pun terluka, menghayati salib Tuhan,digerakkan kasihNya. Hatiku engkau kobarkan;biar aku dibebaskan dalam penghakimanNya.


10. Biarlah salib Tuhanku jadi benteng naunganku dan kurasa rahmatNya.Bila nanti aku mati, biar aku mewarisi kemuliaan yang baka.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)


Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)

Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

Selasa, 15 Juli 2014

RETRET Pasangan Suami Istri (PASUTRI)

Keluarga adalah unit terkecil dari gereja tapi mempunyai peranan yg sangat besar. Bila peran dan fungsi keluarga berjalan baik maka akan tercipta kedamaian. 

Keluarga Alumni Sekolah Evangelisasi Pribadi SHEKINAH (KELASI) mengajak teman2 sekalian untuk merasakan kembali hangatnya kasih di dalam perkawinan dalam RETRET Pasangan Suami Istri (PASUTRI) dengan narasumber:

Romo Hibertus Hartono MSF (Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI) 
Romo Chris Purba, SJ, moderator SEP Shekinah/BPK PKK KAJ

Dan didukung oleh kesaksian-kesaksian dari PASUTRI:
Heru Hendradinata dan Gisela (Mekky)
Joseph Tedjaindra  dan Irene
A. Fajar Kurniawan dan Anastasia
Aloysius M Yasin dan Emnyjune Simatupang
Dr. Soenardi dan Ellen

Pada Hari/Tgl: 
Jumat-Minggu
15-17 Agustus 2014

Casa Monte Rosa Hotel
Puncak Mountain Resort

Dengan tema:
Pasutri yang dipilih untuk melayani.

Pendaftaran:
Moniq: 0812 11 690 690
Fung: 087 88 68 17117
Ariyanti: 021-94045060

Biaya: Rp. 1.600.000/pasang  (Sdh termasuk Penginapan 3 hari 2 Malam 7x makan, 4x snack, buku)
dapat ditransfer ke BCA# 6220 296 758, a/n Yolanda Fanisaputra 

Mohon CANTUMKAN NAMA LENGKAP dan NO HP PESERTA di bagian keterangan pada SAAT TRANSFER.  
Mohon konfirmasi pembayaran melalui email/SMS ke ola.yolanda@gmail.com atau 081807026269. 


Senin, 07 Juli 2014

AGUSTINUS ZHAO RONG




AGUSTINUS ZHAO RONG lahir di Wuchuan, Tiongkok pada tahun 1746. Kisah masa kecilnya tidak banyak diketahui orang. Ketika dewasa ia memilih menjadi tentara dan disukai banyak orang karena kesungguhannya. Sebagai tentara ia berusaha melakukan yang terbaik dengan seluruh kemampuannya. Keahliannya sebagai tentara membuatnya dipercaya untuk menangani tugas-tugas penting termasuk mengawal Uskup John Gabriel Dufresse dari Paris yang tiba di Tiongkok. Perjumpaan dengan uskup yang rendah hati ini menariknya untuk mengenal lebih dalam mengenai kekristenan. Sebaliknya bagi Uskup John Gabriel, Zhao Rong adalah gambaran keberanian, kesungguhan dan kekuatan tentara Tiongkok yang sempurna. 

Perkenalannya dengan Uskup John Gabriel membuatnya mengenal Yesus lebih dalam. Ia mengambil keputusan besar, meninggalkan tugasnya sebagai tentara Tiongkok dan berganti menjadi tentara Kristus lewat jalan imamat. Setelah melalui masa pendidikan sebagai calon imam, Zhao Rong ditahbiskan sebagai imam diosesan Vikariat Apostolik Sichuan. Sebagai imam, ia dengan gigih dan berani mewartakan Kristus. Jiwa tentaranya tidak pudar walaupun ia menjadi imam. Sebaliknya, ia justru membara karena kini tahu siapa yang ia abdi. Zhao Rong menjadi pembela iman yang mengagumkan. 

Zhao Rong juga sangat dekat dengan kaum muda. Kedekatannya dengan mereka menarik banyak kaum muda untuk mengenal Kristus lebih dekat lagi. Seorang anak muda bernama Chi Zhuzi adalah sahabat dekat Zhao Rong. Berkat keberaniannya memperkenalkan Kristus, Zhao Rong dan 119 anak muda termasuk Chi Zhuzi ditangkap dan dipenjara di Chengdu. Di penjara itu mereka dipaksa untuk menyangkal iman Kristiani agar dapat dibebaskan. 

Suatu hari, setelah gagal membuat mereka menyangkal iman, para sipir mencoba cara yang lebih kejam. Mereka menyiksa Chi Zhuzi dengan cara mengulitinya. Hal ini dilakukan di hadapan Zhao Rong dan anak-anak muda lainnya, dengan harapan mereka menjadi takut dan menyangkal iman mereka. Tetapi, Chi Zhuzi menghadapi siksaan dengan tabah sambil terus mengarahkan hatinya kepada Kristus. Setelah lengan kanannya dipenggal, ia berseru, “Setiap daging dan tetes darah saya akan memberitahu Anda bahwa saya adalah seorang pengikut Kristus.” Chi Zhuzi meninggal di depan Zhao Rong yang tidak lama kemudian juga mengalami siksaan serupa. 
  
Pada tahun 1900, Paus Leo XIII membeatifikasi Zhao Rong dan kawan-kawannya. Seratus tahun kemudian, tepat pada 1 Oktober 2000, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi Zhao Rong bersama 120 martir lain. Martir ini terdiri dari anak-anak, kaum buruh, katekis dan orang tua. Gereja Katolik merayakan peringatan St. Agustinus Zhao Rong dan kawan-kawan, para martir dari Tiongkok setiap 9 Juli. Ia dihormati sebagai pelindung para tentara.(RUAH/Charles V, Sumber: www.wikipedia.org, www.americancattholic.org)