Paus Fransiskus sebagai Person of The Year 2013 oleh majalah Time

Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Minggu, 14 September 2014

Bunda yang berdukacita

Diperingati setiap tgl. 15 September

Peringatan Wajib Santa Perawan Maria Berdukacita
     
 Hari ini Gereja Katolik memperingati Peringatan Wajib Santa Perawan Maria yang Berdukacita. Apa maksudnya? Mengapa wajib diperingati? 

Sebagai seorang manusia yang lahir dari rahim seorang ibu, tentu kita akan mengignat ibu kita, terlebih penderitaan ibu kita sendiri. Adakah seorang anak yang tega membiarkan ibunya menderita, atau setidak-tidaknya tidak ambil pusing dengan penderitaan ibu sendiri? 

Orang yang baik dan setia pada Yesus tidak akan melakukan hal  yang demikian. Pokok permasalahannya ialah, sebagai umat beriman, tentu Bunda Maria menjadi Bunda kita semua oleh karena Yesus telah menjadi penebus bagi semua orang. 

Injil memberitakan bagaimana ramalan nabi Simeon terhadap bunda Maria. Simeon mengatakan bahwa “..suatu pedang akan jiwamu sendiri…” (Luk 2:35).  

Pernahkah terbayang, seorang ibu yang hendak bersukacita akan kelahiran anaknya sendiri harus mendengar “berita miris” bahwa anak yang akan dikandung justru menimbulkan perbantahan dan menembus hati sendiri? Rasa takut, cemas, dan mengerikan akan begitu meliputi. Itulah yang mungkin dirasakan oleh Bunda Maria.

Yesus harus mengalami penderitaan ditolak oleh orang – orang sekitar, namun terlebih memuncak saat penderitaan-Nya di salib, sebuah “ke-martiran” fisik demi teusan banyak orang. Bagaimana dengan Bunda Maria? 

Bunda Maria harus menjadi “martir” dalam hatinya sendiri, sebab penderitaan hati-nya sebagai seorang ibu begitu dahsyat diatas penderitaan hati orang lain. Seorang ibu yang justru siap menerima ramala Simeon yang sungguh mengejutkan, justru mengajarkan bagaimana kita belajar dari sosok Sang Bunda untuk setia kepada Yesus hingga sampai di kaki salib sekalipun hati sungguh sedih dan menderita. Bunda Maria tetap setia kepada Yesus apapun yang terjadi, dan Bunda Maria menyimpan semua perkara yang tak mudah itu di dalam hatinya, namun dngan kasih keibuannya dan kepercayaan akan rencana Allah kemartiran nya dalam hati harus diterima. 

Demikian kita, harus menerima semua hal dalam kehidupan dan siap untuk mengolah apapun yang terjadi, karena Bunda Maria telah menjadi ibu yang memberikan kekuatan hati untuk tetap setia pada perkara hati yang tidak mudah
  
RENUNGAN OLEH: DEUS PROVIDEBIT


Lukisan "Maria, berduka cita" di dinding Gereja Santo Stefano Rotondo, Roma


1. Lihat bunda yang berduka di depan salib Sang Put'ra;air mata bergenang. O betapa jiwa ibu tersedu menanggung pilu,bagai ditembus pedang

2. Bunda Put'ra Tunggal Allah disebut "yang berbahagia"kini sangat bersedih. Hatinya dirundung duka,kar'na Put'ra yang termulia bersengsara di salib.

3. O siapa tidak pilu menyaksikan bunda Kristus menangisiPut'ranya? Dan siapa tak tergugah menyelami duka bundaDalam siksa Anaknya?

4. Dilihatnya Yesus, Put'ra, yang tersiksa dan terlukakar'na dosa umatNya dan bergumul sendirianmenghadapi kematian menyerahkan nyawaNya.

5. Wahai bunda, sumber kasih, biar turut kuhayatidukamu yang mencekam; biar hatiku bernyala mengasihiPut'ra Allah dan padaNya berkenan.

6. Biarlah sengsara aib dari Dia yang tersalib tersemat di hatiku;yang ditanggungNya bagiku kudekap bersamamu.

7. Biar aku disampingmu pilu kar'na wafat Kristusdi sepanjang hidupku; inilah keinginanku:di dekat salib Put'ramu besertamu tersedu.

8. O perawan yang terpilih, perkenankan aku iniikut dikau bersedih; biar kematian Tuhandan darahNya yang tercurah kukenangkan tak henti.

9. Biar aku pun terluka, menghayati salib Tuhan,digerakkan kasihNya. Hatiku engkau kobarkan;biar aku dibebaskan dalam penghakimanNya.


10. Biarlah salib Tuhanku jadi benteng naunganku dan kurasa rahmatNya.Bila nanti aku mati, biar aku mewarisi kemuliaan yang baka.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)


Doa untuk Gereja yang dianiaya (bdk. PS 178)

Allah, Bapa di surga, kami bersyukur kepada-Mu, karena Yesus telah menghimpun umat baru bagi-Mu, yakni Gereja. Sungguh berat perjuangan-Nya untuk mewujudkan umat baru itu; la harus menderita, bahkan harus wafat di salib. Tetapi la sendiri telah meyakinkan kami bahwa la mendirikan Gereja-Nya di atas batu karang, dan alam maut tidak akan menguasainya.

Bapa, keyakinan ini pulalah yang telah memberikan kekuatan besar kepada para murid-Nya yang harus menderita karena nama-Nya. Kami ingat akan para rasul yang dikejar-kejar, ditangkap, dan dipenjarakan karena nama Yesus. Kami ingat akan Stefanus yang demi kesetiaannya kepada Yesus harus menanggung penganiayaan yang kejam, dibunuh dengan dilempari batu. Tetapi dengan perkasa dia sendiri mendoakan orang-orang yang menganiayanya dan memohonkan pengampunan dari-Mu. Juga kami ingat akan Rasul Paulus, yang selalu membawa salib Kristus ke mana pun pergi.

Semoga teladan hidup mereka menyadarkan kami semua, terutama saudara-saudara kami yang sedang dianiaya di Timur Tengah. Betapa besar kekuatan yang Kau berikan kepada mereka yang dianiaya demi nama Yesus. Semoga kesadaran itu membangkitkan pula kekuatan dan ketabahan dalam diri mereka. Semoga mereka tetap setia, bahkan merasa bangga karena boleh ikut memanggul salib Kristus, dan memberikan kesaksian tentang salib yang sungguh memberikan kekuatan. Demi Kristus, Tuhan kami. (Amin.)

Selasa, 15 Juli 2014

RETRET Pasangan Suami Istri (PASUTRI)

Keluarga adalah unit terkecil dari gereja tapi mempunyai peranan yg sangat besar. Bila peran dan fungsi keluarga berjalan baik maka akan tercipta kedamaian. 

Keluarga Alumni Sekolah Evangelisasi Pribadi SHEKINAH (KELASI) mengajak teman2 sekalian untuk merasakan kembali hangatnya kasih di dalam perkawinan dalam RETRET Pasangan Suami Istri (PASUTRI) dengan narasumber:

Romo Hibertus Hartono MSF (Sekretaris Eksekutif Komisi Keluarga KWI) 
Romo Chris Purba, SJ, moderator SEP Shekinah/BPK PKK KAJ

Dan didukung oleh kesaksian-kesaksian dari PASUTRI:
Heru Hendradinata dan Gisela (Mekky)
Joseph Tedjaindra  dan Irene
A. Fajar Kurniawan dan Anastasia
Aloysius M Yasin dan Emnyjune Simatupang
Dr. Soenardi dan Ellen

Pada Hari/Tgl: 
Jumat-Minggu
15-17 Agustus 2014

Casa Monte Rosa Hotel
Puncak Mountain Resort

Dengan tema:
Pasutri yang dipilih untuk melayani.

Pendaftaran:
Moniq: 0812 11 690 690
Fung: 087 88 68 17117
Ariyanti: 021-94045060

Biaya: Rp. 1.600.000/pasang  (Sdh termasuk Penginapan 3 hari 2 Malam 7x makan, 4x snack, buku)
dapat ditransfer ke BCA# 6220 296 758, a/n Yolanda Fanisaputra 

Mohon CANTUMKAN NAMA LENGKAP dan NO HP PESERTA di bagian keterangan pada SAAT TRANSFER.  
Mohon konfirmasi pembayaran melalui email/SMS ke ola.yolanda@gmail.com atau 081807026269. 


Senin, 07 Juli 2014

AGUSTINUS ZHAO RONG




AGUSTINUS ZHAO RONG lahir di Wuchuan, Tiongkok pada tahun 1746. Kisah masa kecilnya tidak banyak diketahui orang. Ketika dewasa ia memilih menjadi tentara dan disukai banyak orang karena kesungguhannya. Sebagai tentara ia berusaha melakukan yang terbaik dengan seluruh kemampuannya. Keahliannya sebagai tentara membuatnya dipercaya untuk menangani tugas-tugas penting termasuk mengawal Uskup John Gabriel Dufresse dari Paris yang tiba di Tiongkok. Perjumpaan dengan uskup yang rendah hati ini menariknya untuk mengenal lebih dalam mengenai kekristenan. Sebaliknya bagi Uskup John Gabriel, Zhao Rong adalah gambaran keberanian, kesungguhan dan kekuatan tentara Tiongkok yang sempurna. 

Perkenalannya dengan Uskup John Gabriel membuatnya mengenal Yesus lebih dalam. Ia mengambil keputusan besar, meninggalkan tugasnya sebagai tentara Tiongkok dan berganti menjadi tentara Kristus lewat jalan imamat. Setelah melalui masa pendidikan sebagai calon imam, Zhao Rong ditahbiskan sebagai imam diosesan Vikariat Apostolik Sichuan. Sebagai imam, ia dengan gigih dan berani mewartakan Kristus. Jiwa tentaranya tidak pudar walaupun ia menjadi imam. Sebaliknya, ia justru membara karena kini tahu siapa yang ia abdi. Zhao Rong menjadi pembela iman yang mengagumkan. 

Zhao Rong juga sangat dekat dengan kaum muda. Kedekatannya dengan mereka menarik banyak kaum muda untuk mengenal Kristus lebih dekat lagi. Seorang anak muda bernama Chi Zhuzi adalah sahabat dekat Zhao Rong. Berkat keberaniannya memperkenalkan Kristus, Zhao Rong dan 119 anak muda termasuk Chi Zhuzi ditangkap dan dipenjara di Chengdu. Di penjara itu mereka dipaksa untuk menyangkal iman Kristiani agar dapat dibebaskan. 

Suatu hari, setelah gagal membuat mereka menyangkal iman, para sipir mencoba cara yang lebih kejam. Mereka menyiksa Chi Zhuzi dengan cara mengulitinya. Hal ini dilakukan di hadapan Zhao Rong dan anak-anak muda lainnya, dengan harapan mereka menjadi takut dan menyangkal iman mereka. Tetapi, Chi Zhuzi menghadapi siksaan dengan tabah sambil terus mengarahkan hatinya kepada Kristus. Setelah lengan kanannya dipenggal, ia berseru, “Setiap daging dan tetes darah saya akan memberitahu Anda bahwa saya adalah seorang pengikut Kristus.” Chi Zhuzi meninggal di depan Zhao Rong yang tidak lama kemudian juga mengalami siksaan serupa. 
  
Pada tahun 1900, Paus Leo XIII membeatifikasi Zhao Rong dan kawan-kawannya. Seratus tahun kemudian, tepat pada 1 Oktober 2000, Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasi Zhao Rong bersama 120 martir lain. Martir ini terdiri dari anak-anak, kaum buruh, katekis dan orang tua. Gereja Katolik merayakan peringatan St. Agustinus Zhao Rong dan kawan-kawan, para martir dari Tiongkok setiap 9 Juli. Ia dihormati sebagai pelindung para tentara.(RUAH/Charles V, Sumber: www.wikipedia.org, www.americancattholic.org)

Minggu, 29 Juni 2014

Bacaan Injil dan Renungan Benih Sabda hari ini, Senin 30 Juni 2014

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (8:18-22)

"Ikutlah Aku."
Pada suatu hari banyak orang mengerumuni Yesus. Melihat hal itu Yesus menyuruh bertolak ke seberang.

Lalu datanglah seorang ahli Taurat dan berkata kepada-Nya, “Guru, aku akan mengikuti Engkau, ke mana saja Engkau pergi.”

Yesus berkata kepadanya, “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”

Seorang lain, yaitu salah seorang murid-Nya berkata kepada-Nya, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku.”

Tetapi Yesus berkata kepada-Nya, “Ikutilah Aku, dan biarlah orang-orang mati menguburkan orang-orang mati mereka.”

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.



Renungan Benih Sabda - 30 Juni 2014

MEMAKAMKAN AYAHKU

Mat 8:21-22 
Seorang pengikutnya yang lain berkata kepada-Nya, 
"Tuhan, izinkanlah aku pergi memakamkan ayahku 
terlebih dahulu." Tetapi Yesus berkata kepadanya, 
"Ikutlah Aku, dan biarkanlah orang-orang mati 
memakamkan mereka yang mati."

Arti “mengikut Yesus” digambarkan dalam kisah ini.
Pertama-tama, bagi murid Sang Guru,
Yesus bukan Guru saja, melainkan “Tuhan” sendiri.
Murid sungguh hidup
jika Yesus adalah hidupnya sendiri (Flp 1:21).

Namun, murid yang sudah memahami banyak sekalipun
sulit memahami Sang Guru dalam arti penuh.
Sebab ia mengerti bahwa Sang Guru
tak dapat berperan dalam hidupnya sebagai Nomor Dua.
Seandainya itu mungkin, maka Guru bukan Tuhan.

Seorang perempuan mengandung; ia punya bayi.
Tetapi, suatu saat nanti bayi itu harus keluar dari rahim.
Seorang ayah berkuasa penuh atas anaknya.
Tetapi, anak itu harus lepas darinya kelak,
untuk hidup secara benar-benar dewasa.

Apa saja yang menyenangkan
sehingga menurunkan kedudukan Sang Guru,
harus dilepaskan. Pelepasan ini adalah kemerdekaan.
Hanya dengan mengasihi Tuhan, manusia merdeka!

©SL 30 Juni 2014

Jumat, 27 Juni 2014

Injil hari ini, Minggu, 29 Juni 2014 Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus, Rasul

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius (16:13-19)
     
"Engkau adalah Petrus, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga."
            
Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi. Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” 

Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia, dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” 

Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” 

Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang mengatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. 

Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus, dan di atas batu karang ini akan Kudirikan Gereja-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya. 

Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga, dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.”
Inilah Injil Tuhan kita!

U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Senin, 23 Juni 2014

Injil dan Renungan Benih Sabda hari ini, 25 Juni 2014

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas (1:57-66.80)
  
"Namanya adalah Yohanes."
     
Pada waktu itu, genaplah bulannya bagi Elisabet untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki.

Ketika para tetangga serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepada Elisabet, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia.

Maka datanglah mereka pada hari yang kedelapan untuk menyunatkan anak itu, dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapanya.

Tetapi Elisabet, ibunya, berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.”

Lalu mereka memberi isyarat kepada Zakharia untuk bertanya nama apa yang hendak ia berikan kepada anaknya itu.

Zakharia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.”

Dan mereka pun heran semuanya.

Seketika itu juga terbukalah mulut Zakharia, dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Maka ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah tutur di seluruh pegunungan Yudea.

Semua yang mendengarnya, merenungkannya dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?”

Sebab tangan Tuhan menyertai dia. Anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya.

Ia kemudian tinggal di padang gurun sampai tiba harinya ia harus menampakkan diri kepada Israel.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

Renungan Benih Sabda - 24 Juni 2014

MELIMPAHKAN RAHMAT-NYA

Luk 1:58-59
Tetangga-tetangganya dan kaum keluarganya
mendengar bahwa Tuhan telah melimpahkan rahmat-Nya
kepada Elisabet. Maka mereka pun bergembira
bersama-sama dengannya.

Setiap kelahiran adalah tanda kebesaran kasih Allah.
Setiap kelahiran adalah bukti kerahiman-Nya.
Allah merangkul apa saja yang dijadikan-Nya.

Jika tidak dipahami sebagai karunia luar biasa,
kelahiran anak menjadi beban berat yang tak terpikulkan.
Dari pada dipandang sebagai Pemberi,
Allah bisa saja dipersalahkan sebagai pengganggu.
Kalau itu terjadi, hidup menjadi mengerikan.

Bayi yang dikandung tanpa kasih dari semula
secara naluri sangat terpengaruh oleh kenyataan ini
walaupun kemudian ia tidak menyadari dengan jelas
mengapa ia membenci dirinya dan tidak dikasihi.
Ia bisa saja mengutuki hari kelahirannya.

Tetapi, lain halnya dengan anak yang dinantikan,
yang dicintai sebelum terkandung. Ia selalu riang.
Sukacitanya menular seperti sukacita Elisabet.
Semua orang terpengaruh olehnya
sehingga datang ke rumahnya untuk berpesta.
Memang, kelahiran mirip dengan bunyi
yang bergema semakin lebar
dan mengundang tetangga untuk menari-nari.

©SL 24 Juni 2014