Paus Fransiskus sebagai Person of The Year 2013 oleh majalah Time

Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Minggu, 06 April 2014

8 PRINSIP ETIKA POLITIK KATOLIK 8 PRINSIP ETIKA POLITIK KATOLIK


1. Hormat terhadap martabat manusia.

2. Menghormati kebebasan sebagai hak setiap orang dan
kelompok, bebas dari segala bentuk ketidak-adilan dan
bebas untuk mengembangkan diri secara penuh.

3. Menjaga keadilan sebagai keutamaan yang membuat manusia
sanggup memberikan kepada setiap orang atau pihak lain
apa yang merupakan haknya.

4. Mengembangkan semangat solidaritas yang terungkap dalam
semangat gotong royong dan kekeluargaan. Dalam situasi
ketidak-adilan, solider berarti pula berdiri pada pihak korban
ketidakadilan.

5. Menjalankan prinsip subsidiaritas, berarti menghargai
kemampuan setiap manusia, baik pribadi maupun kelompok
untuk mengutamakan usahanya sendiri, sementara pihak
yang lebih kuat siap membantu.

6. Bersikap fair, adil, taat atau seimbang dalam memperjuangkan
kepentingan dan kesejahteraan rakyat

7. Menghargai prinsip demokrasi dalam segala sisinya baik politik,
ekonomi, sosial maupun budaya secara bertanggungjawab
sebagai penghormatan terhadap kehendak umum
.
8. Mengembangkan sikap bertanggungjawab dengan
memberikan kinerja yang sebaik2nya demi tercapainya
tujuan negara, dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan
tugas itu kepada rakyat
(Lihat, “The Catholic Way”, Mgr Ign.Suharyo, hal 61-66)

Jumat, 04 April 2014

Petunjuk praktis pemilu caleg dari Romo Benny Susetyo Pr (KWI)

1. Dari 12 partai yg ikut yg pasti? lolos PT 3 persen. Karena kalau tidak lolos suaranya hangus alias sia2.

2. Partai2 yg pasti lolos 3 partai besar yaitu PDIP. Gerindra dan Golkar, yg lain masih berjuang

3. Jangan golput krn nanti suaranya bisa di-manipulasi.

4. Pilih saja presidennya dulu baru tentukan partainya yg duduk di DPR utk memperkuat presiden yg akan kita pilih.

5. Kalau nggak jelas komitmennya pilih orang2 baru saja.

6. Presiden yg dipilih adalah presiden yg jelas pro thd
a. NKRI - Pancasila - UUD45
b. HAM terutama thd minoritas
c. Anti korupsi
d. Demokratis ?

Tambahan dr Romo Magnis Suseno SJ (STF Driyarkara Jkt): Jangan pilih presiden yg tangannya berlumuran darah. Mhn diteruskan ke teman2 lain yg seiman..

BENIH SABDA - 5 April 2014 KAMU JUGA DISESATKAN? Yoh 7:46-47


Jawab penjaga-penjaga itu, "Belum pernah seorang pun berkata seperti orang itu!" Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka, "Apakah kamu juga disesatkan? Para pemuka Yahudi menyuruh sekelompok orang menangkap Sang Guru. Tetapi, apa yang terjadi? Dari pada menangkap Sang Guru, para pesuruh itu ‘tertangkap’ olehnya. Mereka tidak melaporkan kata-kata yang diucapkan Sang Guru di hadapan orang banyak.

Namun, mereka sadar bahwa cara Sang Guru berbicara tak sebanding dengan bicara siapapun juga. Mereka terpukau oleh sabdanya! Terang bercahaya di tengah kegelapan, tetapi kegelapan tidak mungkin menguasainya. Mendengar kata-kata para pesuruh itu, orang-orang Farisi mulai mempermalukan mereka. ‘Ooo, kalian membiarkan dirimu tertipu oleh dia yang seharusnya kalian tangkap!? Memalukan, tau!!’

Karena bersikap anti terhadap Sang Guru, orang-orang Farisi menjadi buta. Inilah penyakit utama semua orang yang menganggap diri sudah benar, menuruti aturan. Syukurlah, masih ada manusia yang tidak mau jadi buta.

©SL 5 April 2014 Powered by The Holy Trinity®

Sabtu, 22 Maret 2014

Rupa-rupa bentuk salib




Kamis, 06 Maret 2014

MEMPERSIAPKAN MASA PRAPASKAH DENGAN BAIK: PERTOBATAN


"Alangkah indahnya, betapa pentingnya pertobatan."
–Sto. Fransiskus Assisi



Pertobatan adalah topik yang tidak populer sekarang ini. Mungkin itu karena kita telah menjadi lembek, cengeng, memberikan sebuah nilai yang melebihi apapun pada kenyamanan. Mungkin juga karena upaya kita yang tidak terarah supaya kita tampak tidak kaku dan legalistik. Atau mungkin karena kita tidak berpikir bahwa kita memiliki dosa yang harus kita sesalkan.

Apapun alasannya, pertobatan seharusnya tidak boleh diabaikan. Ia sangat penting bagi kehidupan rohani, dan tidak ada masa yang lebih baik untuk mempraktekkannya selain masa Prapaskah.

Namun, apakah pertobatan itu sebenarnya? Apakah hanya 40 hari puasa dan pantang? Mari kita menuju ke inti masalahnya.

APA ITU PERTOBATAN?

Ketika berbicara tentang pertobatan, kita biasanya berpikir tentang melakukan sesuatu yang memang bagian dari pertobatan itu. Namun, tindakan kita adalah sia-sia, bahkan berbahaya, jika tidak didahului oleh pertobatan yang muncul dari dalam hati kita. Tobat adalah sebuah penyesalan dari dalam hati yang kemudian terlihat melalui tindakan-tindakan lahiriah.

Pertobatan sejati mengalir dari kasih akan Allah dan pengakuan akan betapa beratnya dosa. Jika kita tidak menyadari betapa baik dan penuh kasih Tuhan kita, dan jika kita tidak secara bersamaan menyadari betapa jahatnya dosa itu, kita tidak akan dapat benar-benar bertobat. Kita hanya akan berpikiran bahwa Allah adalah seorang penguasa lalim yang sedang marah yang mana kita ingin redakan amarah-Nya dengan melakukan suatu daftar tindakan baik.

Namun, Ia bukanlah seorang penguasa lalim. Bapa kita mencurahkan berkat dan rahmat kepada kita setiap hari, dan Dia mengasihi kita dengan sungguh-sungguh. Dia telah memberikan kepada kita segala apa yang dapat Ia berikan -dan yang terutama, diri-Nya sendiri. Namun, setiap hari kita membalas kebaikan-Nya dengan tidak tahu berterima kasih dan dengan ketidakpedulian kita, melukai-Nya dan menyalibkan Putra-Nya dengan dosa hawa nafsu, kemarahan, fitnah, kesombongan, dan banyak lagi yang lain. Kita adalah anak-anak terburuk dari seorang Bapa terbaik.

Ketika kita membiarkan pikiran ini mengendap, ketika kenyataan ini menembus kebebalan hati kita, kita digerakkan kepada pertobatan.

TUJUAN

Kamu mungkin masih bertanya-tanya mengapa tindakan-tindakan lahiriah diperlukan, bukankah Allah hanya melihat isi hati kita? Tentu saja! Namun, dengan setiap dosa yang kita perbuat, kerusakan terjadi secara rohani DAN jasmani, dan keduanya harus diperbaiki. Contoh berikut akan membantu menggambarkan prinsip ini.

Beberapa minggu yang lalu, sebuah biola yang tak ternilai harganya, sebuah Stradivarius, telah dicuri dari master konser orkestra lokal kami. Nah, biola ini bukan biola biasa -harganya sekitar 6 milyar sampai 10 milyar dollar. Akan lebih tepat jika dikatakan bahwa biola ini tak ternilai, karena pembuatnya telah lama meninggal dan kualitas uniknya tidak akan dapat direproduksi. Untungnya, biola itu dapat ditemukan dengan cepat dan dikembalikan kepada pemiliknya.

Sekarang bayangkan jika para kriminal yang mencuri biola tidak menjaganya dengan baik. Bayangkan jika biola itu sudah dirusak, hancur berkeping-keping. Sungguh ngeri membayangkannya -namun itulah yang dilakukan dosa pada jiwa kita!

Jiwa kita memiliki nilai yang tidak terbatas! Yesus membelinya dengan Darah-Nya dan memperkayanya dengan rahmat-Nya. Tritunggal Mahakudus berdiam di sana. Dengan setiap dosa yang kamu perbuat, kamu merusak dan menghancurkan harta yang tak ternilai ini, bait Allah dalam jiwamu. Lebih dari itu, kamu juga merusak hubunganmu dengan Tuhan kita. Sangat penting untuk diingat bahwa tidak ada dosa yang terisolasi ketika kamu menjadi anggota tubuh Kristus. Entah kamu dapat melihatnya atau tidak, dosamu merusak dan menghancurkan realitas rohani dari tubuh mistik Kristus.

Sekarang kerusakan ini harus diperbaiki, dan ia dapat diperbaiki melalui pertobatan. Jika aku berdebat dengan istriku dan mengatakan hal-hal yang aku sesali, aku akan menunjukkan penyesalanku dengan membelikannya bunga dan cokelat. Analogi yang aku gunakan ini buruk, namun bayangkanlah bahwa pertobatan adalah bunga dan cokelat bagi hidup rohani kita, yang memulihkan relasi dengan Yesus yang telah kita rusak dan memperbaiki kerusakan yang telah kita lakukan terhadap tubuh mistik-Nya dan jiwa kita.

IDE-IDE UNTUK MELAKUKAN PERTOBATAN

Setelah mengetahui makna pertobatan dan tujuannya, kita dapat membahas bagaimana cara untuk memasukkannya ke dalam masa Prapaskah, dan hidup kita sehari-hari.

Ingatlah bahwa untuk memutuskan cara tobat apa yang sebaiknya kamu lakukan adalah sebuah pertanyaan bagaimana kamu dapat menunjukkan dengan paling baik kepada Yesus bahwa kamu mengasihi-Nya, dan mengakui bahwa pengorbanan adalah inti dari kasih. Tentu, pengorbanan-pengorbanan terbaik kita tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah Ia berikan -hidup-Nya- untuk menunjukkan kepada kita bahwa Ia sungguh mengasihi kita. Ingatlah hal itu ketika kamu mempersiapkan diri untuk masa Prapaskah ini.

Berikut ini beberapa ide untuk pertobatan kita pada masa Prapaskah ini:

Berpuasa - Puasa adalah cara tobat tradisional Gereja. Kamu dapat berpuasa, makan kenyang sekali sehari, juga berpantang terhadap makanan kecil (camilan), rokok, garam, atau hal-hal lain yang kamu sukai. Pastikan juga untuk secara bersamaan kamu lakukan puasa rohani atas dosa, karena jika tidak puasa jasmanimu tidak akan berarti apa-apa.

Bangun pagi - Bangun pagi itu sulit. Sebuah cara tobat yang baik (sebagaimana direkomendasikan oleh Sto. Josemaria Escriva), ialah dengan bangun pagi, mungkin 30 menit dari waktu biasanya kamu bangun. Segeralah bangun dari tempat tidur saat alarm-mu berbunyi, jangan memberikan kenyamanan bagi dirimu dengan mematikannya dan melanjutkan tidur lagi.

Mandi air dingin - Bagi yang memiliki kebiasaan mandi air hangat.

Beri perhatian ekstra - Seringkali kita tidak memberikan perhatian penuh kepada orang lain, entah itu suami, istri, anak-anak, atau rekan kerja kita. Lakukan pengorbanan kecil, sisihkan waktumu untuk memberi mereka perhatian lebih melalui kata-kata dan kepedulianmu.

Puasa dari TV dan media sosial - Kerapkali kita menenggelamkan jiwa kita dalam keramaian media. Kita tidak mempunyai waktu untuk berefleksi karena aliran masukan yang kencang dari Facebook, Twitter, musik, atau TV. Matikan semuanya dan habiskan waktumu yang biasa kamu habiskan untuk menonton TV dan membaca posting Facebook dengan membaca bacaan rohani atau dengan doa.

Salib harian - Setiap hari kita mengalami gangguan. Entah itu kemacetan lalu lintas, ban gembos, rencana yang kacau, atau kaki yang terkilir. Terimalah salib-salib ini dengan sabar dan hati yang damai, daripada menolaknya dengan rasa kesal.

KESIMPULAN

Pertobatan merupakan bagian dari masa Prapaskah dan hidup rohani kita. Ia hanya akan menjadi nyata dan berharga jika mengalir dari kasih kita akan Allah dan duka akan realitas dosa kita. Melalui pertobatan, kita memperbaiki kerusakan rohani yang telah kita lakukan, memperbaiki jiwa kita yang terluka dan hubungan kita dengan Yesus.

Selamat mempersiapkan diri untuk masa Prapaskah!

---

PS. Ada baiknya jika selain memberikan jempol "suka"/"like" pada post ini, sahabat juga turut membagikannya (share) agar teman-teman sahabat juga dapat memahami arti dan pentingnya pertobatan kita, terutama dalam masa Prapaskah juga dalam hidup kita sehari-hari.

Diterjemahkan secara bebas oleh admin VLV dari situs Catholic Gentlemanhttp://catholicgentleman.net/2014/03/02/preparing-for-a-good-lent-penance/ dengan perubahan seperlunya.

-- Veritas liberabit vos!

Minggu, 02 Maret 2014

Masa Prapaskah

Rabu Abu adalah hari pertama Masa Prapaskah, yang menandai bahwa kita memasuki masa tobat 40 hari sebelum Paskah.

Angka “40″ selalu mempunyai makna rohani sebagai lamanya persiapan. Misalnya, Musa berpuasa 40 hari lamanya sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah (lih. Kel 34:28), demikian pula Nabi Elia (lih. 1 raj 19:8). Tuhan Yesus sendiri juga berpuasa selama 40 hari 40 malam di padang gurun sebelum memulai pewartaan-Nya (lih. Mat 4:2).

1. Mengapa hari Rabu?

Gereja Katolik menerapkan masa puasa ini selama 6 hari dalam seminggu (hari Minggu tidak dihitung, karena hari Minggu dianggap sebagai peringatan Kebangkitan Yesus), maka masa Puasa berlangsung selama 6 minggu ditambah 4 hari, sehingga genap 40 hari. Dengan demikian, hari pertama puasa jatuh pada hari Rabu. (Paskah selalu terjadi pada hari Minggu, dikurangi 36 hari (6 minggu), lalu dikurangi lagi 4 hari, dihitung mundur, jatuh pada hari Rabu).

Jadi penentuan awal masa Prapaskah pada hari Rabu disebabkan karena penghitungan 40 hari sebelum hari Minggu Paskah, tanpa menghitung hari Minggu.

2. Mengapa Rabu “Abu”?

Abu adalah tanda pertobatan. Kitab Suci mengisahkan abu sebagai tanda pertobatan, misalnya pada pertobatan Niniwe (lih. Yun 3:6).

Di atas semua itu, kita diingatkan bahwa kita ini diciptakan dari debu tanah (lih. Kej 2:7), dan suatu saat nanti kita akan mati dan kembali menjadi debu. Olah karena itu, pada saat menerima abu di gereja, kita mendengar ucapan dari Romo, “Bertobatlah, dan percayalah kepada Injil” atau, “Kamu adalah debu dan akan kembali menjadi debu” (you are dust, and to dust you shall return).”

3. Tradisi Ambrosian

Namun demikian, ada tradisi Ambrosian yang diterapkan di beberapa keuskupan di Italia, yang menghitung Masa Prapaskah selama 6 minggu, termasuk hari Minggunya, di mana kemudian hari Jumat Agung dan Sabtu Sucinya tidak diadakan perayaan Ekaristi, demi merayakan dengan lebih khidmat Perayaan Paskah

Jumat, 28 Februari 2014

Surat Gembala Prapaskah 2014 untuk Keuskupan Agung Semarang


dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 di wilayah Keuskupan Agung Semarang

“Allah peduli dan kita menjadi perpanjangan tangan kasih-Nya untuk melayani”

Saudari-saudaraku yang terkasih, Tidak lama lagi kita akan memasuki masa Prapaskah, masa penuh rahmat yang setiap tahun kita jalani. Masa Prapaskah menjadi penuh rahmat karena kita mengalami bahwa Allah sungguh baik kepada kita dan memberi kesempatan untuk membangun pertobatan terus menerus.

Ada kisah-kisah kehidupan yang menampakkan solidaritas dan belarasa yang nyata dari situasi banjir ataupun bencana yang terjadi pada hari-hari ini. Namun yang lebih keras terdengar adalah situasi kehidupan harian yang diwarnai dengan korupsi, aneka bentuk keserakahan, egoisme, dan orang mengejar segala kepentingan diri dengan pelbagai cara. Akibatnya orang tidak lagi peduli dengan kesengsaraan banyak orang. Orang hidup untuk dirinya sendiri. Orang menjadi mudah cemas, kuatir, terutama terhadap pemenuhan kebutuhan jasmani. Kekuatiran itu membuat orang tidak mudah bersyukur atas apa yang diterimanya, juga tidak mudah untuk mengambil penderitaan orang lain sebagai tanggung jawabnya. Dalam dunia yang semacam itu, sabda Tuhan memberi peneguhan dan pengharapan. Kasih Allah akan mengatasi segala kekuatiran kita. ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian?” (Mat 6:25). Kasih Tuhan melebihi kasih seorang ibu “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau” (Yes 49:15). Kasih-Nya memberi pengharapan pada semua orang dalam perjuangan hidupnya. Ia akan menerangi dalam setiap langkah hidup kita, terutama saat hidup ada dalam kegelapan (bdk. 1Kor 4:5).

Saudari-saudara terkasih, Belum lama ini Paus Fransiskus mengeluarkan surat apostolik“Evangelii Gaudium”. Dalam suratnya itu, Paus meneguhkan iman kita semua bahwa Allah sungguh mencintai semua orang. Melalui Yesus Kristus, Ia menyelamatkan kita bukan janya orang perorangan, tetapi dalam relasi sosial dengan semua orang (Evangelii Gaudium art. 178). Ia berharap agar iman akan Allah yang begitu mengasihi dibangun terus menerus, sehingga kita bisa bersyukur dalam keadaan apapun dan tidak mudah kuatir; kita bisa terus tergerak untuk membantu orang lain, meringankan beban mereka yang menderita dan mau berkorban tanpa pamrih, walaupun kita hidup di dalam masyarakat yang banyak egois, mengejar kepentingan diri. Semua itu karena kita tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi pada Allah yang dengan cara-Nya akan mencukupi segala kebutuhan dan keselamatan kita.

Saudari-saudara terkasih,

Untuk mengembangkan iman yang demikian, Keuskupan Agung Semarang menjadikan tahun 2014 sebagai Tahun Formatio Iman. Formatio Iman adalah pembinaan atau pendampingan iman yang terus menerus kepada semua orang beriman dalam setiap jenjang usia, mulai dari usia dini sampai usia lanjut. Pembinaan itu melibatkan keluarga, sekolah maupun paroki. Harapannya, melalui pendampingan iman yang terus menerus, kita semua bisa menjadi orang-orang katolik yang beriman cerdas, tangguh dan misioner. Cerdas karena kita mampu memahami dan mempertanggungjawabkan imannya. Tangguh karena kita tetap bisa bertahan dan berkembang dalam iman walaupun ada dalam pergulatan hidup yang berat dan tantangan iman yang semakin kompleks. Dan misioner karena iman mengajak kita bergerak keluar untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah Gereja dan masyarakat.

Iman yang cerdas, tangguh dan misioner itu terumuskan secara jelas dalam tema APP 2014, ”Berikanlah Hatimu untuk Mencintai dan Ulurkanlah Tanganmu untuk Melayani”.Tema itu tidak hanya menyapa sisi manusiawi kita, tetapi juga menyapa iman kita. Pengalaman akan Allah yang mengasihi, meneguhkan dan mengorbankan diri-Nya membuat kita juga mampu mencintai sesama dan mengulurkan tangan-tangan kita untuk melayani orang lain, terutama yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Keprihatinan sosial yang ada sekarang ini menjadi kesempatan kita untuk memberikan kesaksian iman.

Saudari-saudara yang terkasih

Kita menjadikan masa Prapaskah menjadi masa untuk formatio iman, yakni masa untuk mengolah iman secara terus menerus sampai akhirnya kita merasakan bahwa iman adalah rahmat yang membawa hidup penuh berkat; iman adalah keyakinan bahwa Allah berkarya dalam hidup kita; iman adalah penyerahan yang membuat kita tidak kuatir dalam segala hal. Iman adalah kesadaran bahwa hidup ini semakin berarti saat hati bisa mencintai dan tangan bisa melayani. Maka formatio iman tidak bisa dilepaskan dengan pertobatan dan pembaruan. Pertobatan adalah kesediaan diri untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah, sehingga kita tidak kuatir karena Allah bersama kita dan mencukupkan segala kebutuhan kita. Pertobatan juga merupakan penyangkalan diri untuk mewujudkan kasih dalam kehidupan bersama. Pertobatan itu kita bangun melalui puasa, pengakuan dosa dan amal kasih. Puasa menjadi bentuk pengendalian diri dan penyangkalan diri; pengakuan dosa menjadi bentuk kerendahan hati bahwa kita masih lemah dan membutuhkan pengampunan dan pertolongan Tuhan. Amal kasih menjadi tindakan nyata bahwa kita bisa ambil bagian dalam kasih dan kepedulian Allah untuk umat manusia. Dengan demikian, pertobatan membawa pembaruan relasi kita dengan Allah dan sesama.

Saudari-saudara yang terkasih

Secara tulus saya mengucapkan banyak terima kasih kepada ibu, bapak, saudari-saudara, anak-anak, remaja, orang muda, para Romo, Bruder, Suster, Frater yang dengan berbagai macam cara terlibat dalam formatio iman, mengembangkan pelayanan kasih, tiada henti mewujudkan persaudaraan sejati di antara sesama pemeluk agama dan pelayanan lain di Keuskupan Agung Semarang. Saya yakin bahwa usaha dan niat-niat baik Anda akan berbuah bagi terwujudnya tatanan kehidupan yang semakin beriman, bersaudara dan manusiawi.

Secara khusus saya berdoa bagi Anda yang sedang sakit, menanggung beban-beban kehidupan yang berat, berada di Lembaga Pemasyarakatan, menjadi korban penyalahgunaan Narkoba, difabel atau berkebutuhan khusus serta yang lanjut usia; semoga Tuhan yang Mahakasih memberikan keteguhan iman kepada Anda semua dan diantara umat dapat saling menghibur-meneguhkan. Tuhan yang Mahamurah senantiasa melimpahkan berkat bagi keluarga dan komunitas Anda.

Salam, doa dan Berkah Dalem,
Semarang, 22 Februari 2014, pada Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul


+ Johannes Pujasumarta Uskup Keuskupan Agung Semarang