Paus Fransiskus sebagai Person of The Year 2013 oleh majalah Time

Baru 9 bulan menjabat, Paus dipilih menjadi Tokoh Terpilih 2013

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Gabunglah di Twitter kami: https://twitter.com/Katolik_ku

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Selamat Datang di Gereja Katolik Blog

Terimakasih atas kunjungannya, semoga blog ini bermanfaat untuk meningkatkan iman Katolik kita.

Rabu, 13 Desember 2017

Rumah Retret Wisma Cengkih

Ordo MSC punya rumah retret yg bagus, dekat gerbang tol Ciawi-Jakarta:

Wisma Cengkih
Jl. Raya Cihideung no. 36 - Cipelang, Cijeruk Bogor

Hp: 0856 1768 697




Tolong bantu promosi...
👆👆


Wisma Cengkeh: Jln. Raya Cihideung no 36, Cipelang, Cijeruk, Bogor, Jawa Barat 16740

0856 1768 697

Senin, 03 Juli 2017

RENUNGAN HARIAN KATOLIK DALAM BENTUK AUDIO-VIDEO Selasa 04 Juli 2017


_HARI BIASA, PEKAN BIASA XIII_
Santa Elisabeth dari Portugal; Santo Ulrich; Beati Pierre Georges Frassati
Warna Liturgi : HIJAU.

Bacaan Pertama : Kej. 19:15-29.
Mazmur Tanggapan : Mzm. 26:2-3,9-10,11-12. R : 3a.
Bait Pengantar Injil : Mzm. 129:5.
Bacaan Injil : Mat. 8:23-27.
Bacaan Ofisi : 1 Sam. 9:1-6,14-10:1.
 
■ *BACAAN HARIAN, INJIL dan RENUNGAN* oleh Pastor Paulus Kristianto Puji Sutrisno, O.Carm dari Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang, Jakarta Barat.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/ugv8bsvpprnbcmjoc4nvrcg5dr53gzbc
■ *SSL - Siraman Sabda Ledalero* - Senandung Ucap dari Seminari Tinggi Santo Paulus di Ledalero, NTT.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/v5q466aamdvumt2xzfxzhfnlm3h8wfrh
■ *ReSi* [Renungan Singkat] Dehonian oleh Pastor Aloysius Yudistira, SCJ dari Gisting, Lampung.
_AUDIO AMR_ : https://1drv.ms/u/s!Ap_h6oNm2s7-iSS-xJi32Ba9QxGz
■ *InRhi* (Injil dan Inspirasi Hari Ini) oleh Pastor Eltus Mali, Pr dari Paroki St. Simon Petrus Gembala di Sungguminasa, Gowa, Keuskupan Agung Makassar.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/i6si89ejwb20go5rf9n0q64bo82bx9sd
■ *Daily Fresh Juice*  - _TUHAN YESUS ADA DALAM PERAHU_ - oleh Johan Ng dari Jakarta.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/cga3zoqk2wkq7vl3884298isajigbknd
■ *Siraman Rohani* oleh Pastor Fredy Jehadin, SVD dari Seminari Tinggi Bomana, Keuskupan Agung Port Moresby, Papua Nugini.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/d8spt57zlowsihds4fck3okkaq1ros8w
■ *Mutiara Pagi* oleh Pastor Agustinus Malo, CSsR dari Sumba, NTT, Keuskupan Weetebula.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/p4fcs95dvjeirkws1tegeasefvw3ijm7
■ *Pelita Hati* oleh Pastor Thomas Suratno, SCJ.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/149mpnb0v14emza10olpd6oo180k9s5b
■ *Renungan Harian* oleh Pastor Antonius Suhardi Antara, Pr dari Keuskupan Agung Jakarta.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/au8it9f2vjciynu1kfohog61c72k7o6k
■ *Renungan Charitas* - Kongregasi Suster Santo Fransiskus Charitas oleh Suster M. Dorotea FCh.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/kcd6pafsgd9m26nxacr6zj0ynp402xhy
■ *Renungan Selasa 04 Juli 2017* oleh Pastor Aloysius Agus Wijatmiko, Pr dari Gereja St. Paulus, Paroki Nganjuk, Keuskupan Surabaya.
_AUDIO M4A_ : https://app.box.com/s/yhn869aczzzf1bs591wbkma18w53ul2h
■ *Video Renungan Harian* Gereja Maria Bunda Karmel, Paroki Tomang, Jakarta Barat oleh Pastor Paulus Kristianto Puji Sutrisno, O.Carm.
_VIDEO LINK_ : https://youtu.be/vAXkYY-swhE
■ *Relung Cinta Pagi* oleh Pastor Martinus Gunawan Wibisono, O.Carm. dari Paroki Meruya, Gereja Maria Kusuma Karmel, Jakarta.
_AUDIO AMR_ : https://app.box.com/s/jr04ry9g5sn5eoeqxi9y8tnx1gs9hizy

TUHAN MENYEMBUHKAN LUKAKU DAN LUKAMU

TUHAN MENYEMBUHKAN LUKAKU DAN LUKAMU
(RD Josep Susanto)

Bacaan Injil hari ini kalau dibaca baik-baik dan teliti, seakan menelanjangi diri kita masing-masing.

Bukan cuma membongkar setiap borok, akar kepahitan dan luka dalam hidup kita, tetapi bacaan hari ini sekaligus menyediakan obat mujarab penyembuh luka tersebut.

Romo Josep ngomongin apa toh?

Makanya, yuk kita gali teks Yoh 20:24-29 ini, di mana Yesus menampakan diri kepada Tomas.

Dikisahkan Tuhan Yesus yang bangkit menampakan diri di hadapan para muridNya di sebuah rumah.

Dikatakan Tomas TIDAK ADA bersama para murid.

Perhatikan apa yang dikatakan PARA MURID (10 orang) kepada Tomas (1 orang). Lalu perhatikan juga apa REAKSI Tomas.

Kata murid-murid yang lain itu kepada Tomas:

"Kami telah melihat Tuhan!"

Tetapi Tomas berkata kepada mereka:

"Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Apa yang bisa kita cermati:

Tomas adalah simbol murid Tuhan yang terluka. Luka kenapa mo? Jatuh?

Bukan sembarang luka. Kematian Yesus, guruNya, di kayu Salib menghancurkan seluruh harapan, impian, masa depan, iman Tomas.

Peristiwa kematian Yesus tentunya juga sulit diterima oleh murid-muridNya lainnya.

Seperti sebuah pukulan telak yang tidak mudah diterima. Rasanya lebih menyesakkan daripada jagoan kita kalah dalam Pilkada kemarin.

Kematian Yesus, Sang Gembala, adalah luka yang menghancurkan hidup dan harapan para murid.

Romo Jo, lebay amat bahasanya.

Tidak, saya tidak lebay. Hal itu bisa kita lihat sendiri dalam kata-kata yang keluar dari mulut Tomas sendiri.

Lihat syarat yang diajukan Tomas untuk percaya, ngak main-main loh.

Ada 3 syarat, yang makin lama makin absurd.

1. Melihat
2. Mencucukkan jari
3. Memasukkan tangan.

Lihat syaratnya, makin lama makin ngeri dan brutal. Hal itu menunjukkan Tomas semakin membentengi diri untuk tetap tidak percaya.

Uniknya, ternyata luka Tomas menciptakan luka bagi 10 murid lainnya.

Bayangkan bila dalam komunitas atau keluarga sudah tidak ada lagi rasa saling percaya.

Tomas tidak percaya pada kesaksian mereka tentang Tuhan yang bangkit.

Di sini terjadi konflik vertikal dan horisontal. Bisa jadi ada murid lain yang marah dengan keras kepala Tomas.

Menarik untuk diperhatikan bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan Tomas dan juga murid lainnya.

Yesus menyembuhkan Tomas dengan menegurnya di hadapan para murid lainnya, dalam komunitas, dalam kebersamaan.

Di satu sisi Tomas menjadi sembuh dan percaya.

Di sisi lain, para murid lainnya menyaksikan bagaimana Tomas "ditegur/disentil" oleh Yesus.

Saudaraku pencinta Firman Tuhan yang terkasih, seperti Tomas dan para murid lainnya, kebersamaan kadang membuat kita TERLUKA.

Entah itu namanya konflik, beda pendapat, dikritik, tidak dihargai, disingkirkan, diomongin yang ngak-ngak, dll dll.

Godaannya kita menarik diri dari komunitas, acuh tak peduli lagi dengan komunitas, atau entah apapun itu bentuknya.

Dari kasus Tomas kita belajar bahwa yang namanya komunitas ataupun keluarga, dan Gereja adalah tempat iman kita bertumbuh dan berkembang, namun bisa juga menjadi tempat kita terluka sekaligus disembuhkan dan dipulihkan bersama Kristus.

Bila kecewa dan marah dengan komunitas, janganlah kita mutung, menghilang, dari komunitas. Sembuhkan lukamu dalam kebersamaan.

Tuhan memberkatimu.

Sabtu, 04 Maret 2017

MENJADI KATOLIK INDONESIA UNTUK PERDAMAIAN

MENJADI KATOLIK INDONESIA UNTUK PERDAMAIAN

Berhentilah menjadi Katolik bermuka dua yang mengagungkan kedamaian dan persatuan namun terus menebar kebencian atau cemoohan bagi yang lain melalui status-status di FB atau medsos lainnya.

Sebagai orang Indonesia dan Katolik saya merasa bangga bahwa keberadaan Gereja Katolik di Indonesia ikut memberikan sumbangsih berharga bagi perdamaian dan persatuan bangsa Indonesia yang majemuk.

Semangat ke-Katolikan dan ke-Indonesiaan sebagaimana yang digaungkan oleh Mgr. Soegiapranoto SJ 100% Katolik; 100 % Indonesia menjadi spirit Misioner bagi Gereja Katolik untuk bermisi membangun Perdamaian dan Persatuan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Di tengah hiruk pikuk cemoohan dan label “kafir” yang diberikan berdasarkan tafsir oknum kelompok tertentu kepada Gereja Katolik tidak mengendurkan semangat dan misi Gereja Katolik untuk hadir untuk membumikan, merawat dan memperjuangkan perdamaian secara konkret; “AKU DATANG MEMBAWA PERDAMAIAN DAN BUKAN PERPECAHAN” melalui institusi maupun perorangan umat Katolik Indonesia.

Keterlibatan dan peran (yang tentu masih ada kekurangan) Gereja Katolik dalam usaha menjaga dan mewartakan perdamaian demi Keutuhan NKRI adalah bentuk penyangkalan diri Gereja; “melepaskan segala bentuk keegoisan diri” dan masuk dalam Salib (Solidaritas) hidup masyarakat dan bangsa Indonesia untuk kedamaian bersama.

Kehadiran ketiga Bapak Uskup (Mgr. Suharyo, Mgr. Antonius dan Mgr. Paskalis Bruno OFM)  yang secara resmi diundang oleh Presiden Jokowi bersama tokoh lintas agama lainnya untuk bertemu dengan Raja Salman adalah kehadiran umat dan Gereja Katolik yang semakin menegaskan Peran, Misi dan Tanggungjawab Gereja Katolik Indonesia dalam mewartakan Perdamaian dan menjaga Keutuhah NKRI.

Kehadiran ketiga Bapak Uskup bukan sekedar mewakili namun kehadiran seluruh Umat dan Gereja Katolik Indonesia merupakan tindakan aktif Gereja Katolik yang menjadikan Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan bangsa Indonesia sebagai Kegembiraan dan Harapan, duka dan kecemasan Gereja Katolik dalam memperjuangkan perdamaian dan kesatuan bangsa dalam kemajemukan.

Pengalaman berharga ini tentunya tidak hanya melahirkan rasa bangga bagi kita sebagai Umat dan Gereja Katolik Indonesia tetapi paling penting adalah menjadi spirit bagi kita semua untuk terlibat aktif dalam menjaga dan memperjuangan Perdamaia, Keadilan dan Kebenaran dalam aksi dan tindakan nyata demi keutuhan NKRI; misalnya berhenti menuliskan hujatan, cemoohan dan status-status di FB atau cuitan di twitter dan medsos lainnya yang bernuansa sentimen dan fanatisme.

JIKA KITA MASIH SAJA MENULISKAN STATUS ATAU APAPUN YANG BERNUANSA SENTIMEN DAN FANATISME; ARTINYA KITA JUGA TERMASUK KELOMPOK TERORIS DAN KAUM RADIKAL YANG MEMECAH BELAH PERSATUAN DAN MERUSAK PERDAMAIAN.

KITA JADIKAN MASA PUASA DAN PANTANG SEBAGAI KETERLIBATAN AKTIF MENJAGA DAN MEMPERJUANGAN PERDAMAIAN DAN KESATUAN BAGI SEMUA. Berhentilah menjadi Katolik bermuka dua yang mengagungkan kedamaian dan persatuan namun terus menebar kebencian atau cemoohan bagi yang lain melalui status-status di FB atau medsos lainnya. Semoga.

Manila: Marso-04-2017
Fr. Juan Tuan MSF

Rabu, 01 Maret 2017

Aksi Kasih dan Puasa

15 aksi kasih sederhana yang menjadi perwujudan konkret dari cinta:
1. TERSENYUMLAH. Seorang Katolik selalu ceria.
2. Katakan TERIMA KASIH/BERSYUKURLAH untuk hal-hal sekecil apapun (bahkan jika kita tidak memilikinya)
3. Ingatkan yang lain bagaimana kamu sungguh MENCINTAI mereka.
4. BERI SALAM SUKACITA kepada orang2 yang kamu jumpai tiap hari
5. DENGARKAN cerita orang lain tanpa menghakimi, tapi dengan cinta.
6. Berhentilah jika ada yang membutuhkan bantuanmu. Jangan CUEK.
7. Cobalah untuk BANGKITKAN SEMANGAT orang-orang di sekitarmu.
8. RAYAKAN KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN orang lain, hindarilah menjadi iri dan cemburu.
9. TATALAH barang-barang yang sudah tidak digunakan atau tidak dibutuhkan, dan BERIKAN ke mereka yang membutuhkan.
10. SIAP SEDIALAH UNTUK MEMBANTU ketika kamu dibutuhkan sehingga orang lain bisa beristirahat.
11. KOREKSILAH ORANG LAIN DENGAN CINTA, sesedikit mungkin jangan sampai membuat ia takut.
12. RAWATLAH relasi yang baik dengan mereka di dekatmu
13. JAGALAH KEBERSIHAN barang-barang yang kamu gunakan di rumah
14. TOLONGLAH yang lain mengatasi hambatan mereka
15. TELPONLAH ORANGTUAMU sesering mungkin.

Pilihan Puasa yang menjadi rekomendasi untuk kita semua:

1. Puasa mengeluarkan kata-kata yang menyerang dan ubahlah dengan kata-kata yang manis dan lembut
2. Puasa kecewa/tidak puas, dan penuhilah dirimu dengan rasa syukur.
3. Puasa marah dan penuhi dirimu dengan sikap taat dan sabar.
4. Puasa pesimis. Penuhilah dengan OPTIMIS
5. Puasa khawatir dan penuhilah dirimu dengan percaya pada Tuhan.
6. Puasa Meratap/Mengeluh dan nikmatilah hal-hal sederhana dalam kehidupan.
7. Puasa stress dan penuhilah dirimu dengan DOA
8. Puasa dari kesedihan dan kepahitan. Penuhilah hatimu dengan Sukacita.
9. Puasa egois, dan gantilah dengan bela rasa pada yang lain
10. Puasa dari sikap ga bisa mengampuni dan balas dendam. gantilah dengan pendamaian dan pengampunan.
11. Puasa ngomong banyak, dan penuhilah dirimu dengan keheningan dan siap sedia mendengarkan orang lain.

Jika kita semua mempraktikkan gaya berpuasa ini, setiap hari-hari kita akan dipenuhi dengan kedamaian, sukacita, dan percaya satu dengan yang lain, dan HIDUP.

Selasa, 28 Februari 2017

MAKNA ABU MENURUT KITAB SUCI

MAKNA ABU MENURUT KITAB SUCI

Sebelum kita menerima Abu di dahi kita pada  Hari Rabu Abu, ada baiknya kita mengerti makna dibalik simbol ABU dalam tradisi Kitab Suci.

👼🏻 Kata ABU beberapa kali muncul bersamaan dengan kata DEBU. Dua kata ini berasal dari akar kata yang sama. APAR = Debu, IPER= Abu.

👼🏻 Debu adalah benda terkecil (pada zaman itu, sebelum ditemukan atom atau partikel), sifatnya: tidak ada artinya, mengotori, tak berguna dan tak bermanfaat, namun masih bisa dilihat.

👼🏻 Sementara Abu mengacu pada sisa-sisa benda-benda yang dibakar. Mengacu pada kemusnahan sesuatu yang ada menjadi tiada, kesia-siaan, dan tidak punya arti lagi.

👼🏻 Abraham ketika Ia berbicara dengan Tuhan, mengakui dirinya hanyalah debu dan abu (Kej 18:27).

👼🏻 Debu dan abu adalah benda yang mempunyai derajat paling rendah di antara benda-benda lainnya.

👼🏻 Dalam kitab Samuel dikatakan debu dan abu adalah tempat tinggal orang-orang miskin dan orang lemah. Allah mengangkat mereka dari debu dan abu. 1Sam 2:8.  
                                  
 👼🏻  Ada beberapa tokoh dalam Kitab Suci yang menggunakan ritual pertobatan dengan menggunakan debu dan abu:

1. Ayub. 42:6 "Ayub bertobat dalam debu dan abu"

2. Nabi Yehezkiel menyerukan pertobatan kepada Israel dengan menaruh abu di atas kepala dan berguling dalam debu. (Yeh 27:30)

3. Raja Niniwe setelah mendengar nubuat penghukuman yang disampaikan Yunus. Raja ini menyesal dan duduk di atas debu (Yun 3:6).

👼🏻 Dari beberapa contoh kemunculan debu dan abu di atas, kita bisa menarik inspirasi dari tindakan pertobatan dengan penerimaan abu di dahi kita:

PERTAMA
🙏 Kita melihat SIAPA DIRI KITA di hadapan Allah. Tuhan lah Allah, Raja atas diri kita, sementara kita bukanlah apa-apa, tidak berarti, seorang hamba sahaya, tetapi DIKASIHI olehNya.

KEDUA
🙏 Debu dan abu adalah simbol hancurnya hati dan diri kita setelah kita menyadari betapa DOSA TELAH MERUSAK DIRI KITA sedemikian rupa.

👼🏻 Kita menjadi tidak bisa berpikir jernih, penuh nafsu dan tipu daya, pintar bersandiwara, melakukan kebohongan demi kebohongan.

👼🏻 Karena dosa kita lupa bahwa kita membutuhkan Tuhan dan sesama. Kita menjadi sedemikian sombong, angkuh dan congkak hati.

KETIGA
🙏Menjadi debu dan abu artinya kita meninggalkan kedirian kita, dengan segala kesombongan, sifat egois, segala hal-hal yang merusak identitas kita sebagai anak-anak Allah, yang telah ditebus oleh Darah Anak Allah.

KEEMPAT
🙏 Kesadaran bahwa diri kita adalah debu membantu kita untuk melihat orang lain.

👼🏻 Kita semua berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu, maka tidak perlu ada yang disombongkan lagi. Tidak perlu seorang pun merasa lebih hebat dari orang lain lalu memandang rendah orang lain.

KELIMA
🙏 Sebutir debu tidak akan terlihat oleh mata. Debu akan terlihat bila dikumpulkan bersama debu lainnya.

👼🏻 Bukankah dunia ini berasal dari kumpulan milyaran debu. Maka diriku yang adalah debu, akan lebih menemukan eksistensi dan maknanya, ketika aku berada bersama yang lain.

👼🏻 Aku memerlukan orang lain, dan orang lain pun memerlukan aku.


👼🏻 Selamat memasuki MASA PENUH KERAHIMAN ALLAH.

Senin, 20 Februari 2017

Melawan Badai Maut di Laut Asmat

Berita duka dari pantai selatan.

Melawan Badai Maut di Laut Asmat
(Kisah Pastor Siprianus Koten, Pr,  Sr. Cecilia Kelbulan, TMM dan Sr. Hubertina Labok, TMM)

“Suster kita berdoa, supaya kita kuat. Kita kuat bukan untuk sampai ke darat, tetapi untuk menghadapi kematian,” ungkap Pastor Sipri, Pr.

Minggu, 29 Januari 2017, setelah makan siang, Sr. Cecilia Kelbulan, TMM bercerita dengan Pastor Sipri Koten, Pr di meja makan. Di dalam cerita itu, ia bertanya kepada Pastor Sipri kapan bisa ke Agats. “Pastor, kapan ke Agats?” tanyanya saat itu. Dengan nada santai, Pastor Sipri menjawab, “Suster, saya belum punya kepentingan untuk ke Agats.” Setelah mendengarkan jawaban itu, Sr. Cecilia, TMM berkisah tentang tugas yang sedang diembannya yakni mesti menyerahkan berkas peserta ujian nasional ke kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Asmat, di Agats. Ia minta kepada Pastor supaya mereka bisa pergi ke Agats. Mendengar ungkapan suster itu, Pastor Sipri, yang sejak 22 Agustus 2015 bertugas di Paroki Bayun menyanggupi permintaan suster sambil melihat perkembangan cuaca. “Suster, kita lihat cuaca, kalau cuaca bagus, kita jalan,” tuturnya saat itu.

Kisah siang itu berlanjut hingga malam hari di meja makan. “Pastor, hari ini laut teduh,” ungkap Sr. Cecilia Kelbulan, TMM kepada Pastor Sipri. “Baik Suster. Kalau laut teduh, besok pagi kita jalan. Kepastiannya nanti besok pagi-pagi saya ke pantai untuk lihat kondisi laut,” jawab Pastor Sipri.

Senin, 30 Januari 2017, sebelum matahari terbit di ufuk Timur, Pastor Sipri beranjak ke tepi pantai yang berjarak satu kilo meter dari pastoran. Ia memantau kondisi laut. “Subuh menjelang pagi itu, saya melihat laut teduh. Saya pastikan kami bisa ke Agats, sehingga saya minta calon frater yang sedang menjalani masa persiapan (Maper) untuk memanggil suster supaya siap ke Agats,” tutur Pastor Sipri mengenang kisah pagi itu.

Pukul 06.30 WIT, cuaca cerah. Pastor Sipri, Pr bersama Sr. Cecilia Kelbulan, TMM dan Sr. Hurbertina Labok beranjak ke dermaga tempat speed boat ditambatkan. Ketiganya masuk ke dalam speed boat dan beranjak ke Agats. Kondisi laut teduh. Tidak tampak bahwa akan ada badai.

Pukul 07.15 WIT, Pastor Sipri dan kedua Saudarinya berangkat ke Agats. Pastor Sipri yang mengemudikan speed boat. Di dalam perjalanan itu, suasana ceriah tampak di antara ketiga pelayan Tuhan itu. “Kami saling bercerita satu sama lain. Hanya saya lihat Sr. Cecilia khusuk dalam doa semenjak  kami meninggalkan dermaga Bayun,” tutuk Pastor Sipri.


Mesin Speed Boat Mati
Kisah pilu berujung pada kematian tragis Sr. Cecilia Kelbulan, TMM di tengah samudra Pasitifik dimulai ketika mesin speed boat mati di daerah Bokap, beberapa kilo meter sebelum masuk kota Agats. Saat itu, sudah pukul 10.30 WIT. “Mesin mati di daerah Bokap, sudah dekat Agats. Saya berusaha membersihkan mesin karburator dan gelas minyak. Setelah saya pasang dan hidupkan, ternyata mesin tidak bisa hidup,” ungkapnya.


Alternatif yang diambil waktu itu adalah dengan mendayung speed. Pastor Sipri mencoba sekuat tenaga untuk mendayung speed ke tepi pantai. Daya upayanya tidak membuahkan hasil. Arus dan gelombang semakin deras. “Saya berusaha dayung, tetapi arus semakin kencang, sehingga kami sepakat untuk ikut arus. Kami percaya akan ada orang yang lewat dan bisa menolong kami” tuturnya.

Hari beranjak siang. Badai dan gelombang semakin bergelora. Speed boat semakin jauh dari daratan. Di tengah situasi ini, ketiga pelayan Allah di tanah Asmat ini saling menguatkan satu sama lain. “Kami sudah kehilangan akal. Kami saling menguatkan satu sama lain. Terutama, saya meyakinkan  kedua suster bahwa kami akan terdampar di tepi pantai,” tutur Pastor Sipri.

Ironisnya, menjelang sore daratan semakin tidak tampak. Speed boat terhempas oleh arus dan gelombang ke tengah samudra pasifik. Di tengah situasi itu, Pastor Sipri mengungkapkan kekecewaannya. “Suster, saya seperti tidak yakin lagi pada Tuhan. Saya gelisah. Ombak dan angin semakin besar. Tapi, saya lihat suster punya raut wajah sangat tenang, teduh dan tidak panik. Hal ini meyakinkan saya bahwa kami akan sampai di darat,” ungkap Pastor Sipri.

Hari semakin malam. Ketiga pelayan Allah ini terseret angin dan gelombang ke tengah laut. Ketiganya terombang-ambing di dalam speed boat, tanpa mengetahui kapan bisa terdampar di tepi pantai. Di dalam kegalauan di tengah malam itu, mereka tetap berharap akan datangnya pertolongan. Namun, malam itu berlalu tanpa ada yang menolong. “Pukul 22.00 WIT, saya coba keluar dari speed boat dan melihat kami semakin menjauh dari mercusuar Atjs. Saya pikir, kami akan terdampar di Wanam” kata Pastor Sipri.

Hari telah berganti. Dini hari, Selasa, 31 Januari 2017, pukul 01.00 WIT, hujan, badai dan gelombang menghantam speed boat yang terombang-ambing di tengah laut lepas itu. Ketiganya bergulat dengan maut. Pada akhirnya, ketiganya pasrah pada penyelenggaraan Allah. “Kami tidak takut mati lagi. Kami tidak merasa lapar” tutur Pastor Sipri dengan nada merendah.

Inilah hari kedua ketiga pelayan Allah ini terhempas di tengah samudra pasifik. Semakin siang, hujan, gelombang dan badai kian ganas. Dalam situasi seperti itu, ketiganya berpasrah diri. “Suster, kita terima saja. Terserah Tuhan mau bawa kita ke mana,” cerita Pastor Sipri.

Hari menjelang malam, tetapi gelombang dan badai tidak kunjung redah. Tidak ada lagi harapan akan sampai di darat. “Suster kita berdoa, supaya kita kuat. Kita kuat bukan untuk sampai ke darat, tetapi untuk menghadapi kematian,” ungkap Pastor Sipri.

Malam hari, Sr. Cecilia Kelbulan, TMM mengambil jam milik Pastor Sipri. Ia berusaha melihat angka pada jarum jam itu. Ia berujar, “Pastor sudah jam sepuluh malam. Berarti kita masih lama,” tutur suster. Menanggapi pernyataan suster itu, Pastor Sipri menjawab, “Tidak apa-apa suster, Tuhan tidak menutup mata terhadap kita.”

Malam semakin larut. Raut wajah ketiganya semakin lelah. Tidak ada harapan untuk bisa bertahan hidup. Dalam situasi itu, Pastor Sipri merangkul kedua saudarinya. Ketiganya larut dalam doa penyerahan. “Kami berdoa bukan supaya Tuhan mengantar kami ke darat, tetapi supaya jiwa mendapatkan keteduhan. Karena saya lihat ombak dan angin yang begitu besar sehingga tidak ada harapan bahwa kami akan selamat,” tutur Pastor Sipri.

Usai berdoa, Pastor Sipri mengakukan dirinya sebagai hamba paling berdosa. “Suster, kita ini manusia berdosa. Dan di dunia ini, saya yang paling berdosa.  Tetapi, saya yakin dan percaya bahwa tangan saya diurapi, sehingga saya keluar dari speed dan berdiri dekat mesin dan memberkati laut. Sesudah itu, laut teduh sekitar lima belas menit,” cerita Pastor Sipri.


Speed Boat Tenggelam: Saudari Maut Menjemput Sr. Cecilia Kelbulan, TMM
Pukul 23.00 WIT, laut kembali mengamuk dengan dasyat. Gelombang dan badai datang silih berganti menghantam speed. Malam gelap gulit, tak ada sesuatu pun yang tampak. Dalam kondisi gelap itulah speed terhempas oleh ganasnya gelombang dan terbalik. “Saat speed terbalik, kami bertiga ada di dalam speed. Suster Labok yang keluar duluan. Kami bertahan dengan pegang di tepi speed. Gelombang dan badai semakin besar. Setiap kali terhempas ombak, kami punya tangan terlepas dari speed sehingga harus berjuang untuk cari dan pegang tepi speed,” tutur Pastor Sipri.

Terendam di dalam samudra. Untaian doa pengharapan terus terlontar, “Tuhan, tolong kami,” pinta Sr. Cecilia Kelbulan, TMM sebagaimana diungkapkan oleh Pastor Sipri. Sr. Cecilia Kelbulan, TMM tetap berjuang hidup. Ia memiliki semangat bertahan. “Suster berjuang satu jam lebih untuk bertahan dari hempasan badai dan gelombang,” tutur Pastor Sipri.

Di tengah gelombang dan badai, Pastor Sipri tetap memberikan semangat. Ia berpesan supaya mereka tetap memegang tepi speed. Tidak boleh ada yang melepasnya. “Saya bilang, kami harus tetap pegang speed. Kalau sudah tidak mampu, saya akan perintahkan untuk lepas sama-sama,” tuturnya dengan nada senduh mengenang kejadian tragis itu.

Dalam perjuangan melawan badai maut itu, Sr. Cecilia Kelbulan, TMM berujar kepada Pastor Sipri, “Pastor, saya sudah tidak mampu lagi.” Namun, Pastor Sipri tetap memberikan semangat, “Suster, tetap bertahan.” Raga Sr. Cecilia Kelbulan, TMM sudah lelah. Ia sudah pasrah pada Saudari Maut. Namun, Pastor Sipri masih berjuang merangkul suster. Ia mau supaya ketiganya bertahan bersama-sama.

Saudari Maut semakin mendekat, Sr. Cecilia Kelbulan, TMM sudah siap. Ia pasrah pada rencana Tuhan bagi hidupnya. Ia memisahkan diri dari Pastor Sipri. Ia tenggelam. Namun, beberapa saat kemudian, ia muncul ke permukaan. Ia memeluk dan merangkul Saudari sekomunitasnya, Sr. Hurbertina Labok, TMM. Selanjutnya, ia pergi untuk selamanya menghadap Allah, Sang Pencipta.

Pastor Sipri dan Sr. Labok, TMM masih tetap bertahan dengan memegang tepi speed boat. Keduanya meminta agar Sr. Cecilia Kelbulan, TMM yang telah mendahului mereka menghadap Sang Pencipta untuk menolong mereke berdua. “Suster, bantu kami. Antar kami ke darat dan jangan jauh dari kami,” tutur Pastor Sipri mengenang malam kelam di tengah samudra pasifik itu. Ia menambahkan, “Setiap kali dihantam ombak, kami memohon Tuhan mengantar kami ke darat.”

Setelah dua hari dan dua malam di tengah laut lepas, memasuki dini hari ketiga, Rabu, 1 Februari 2017, sekitar pukul 03.00 WIT, Pastor Sipri dan Sr. Hubertina Labok, TMM  menginjakkan kaki di tepi pantai yang berlumpur. Keduanya tidak tahu sedang berada di mana. “Gelombang dan badai menghantam kami sehingga kami terhempas ke tepi. Saya melihat sesuatu di depan sana, tetapi tampak gelap. Saya kira itu lumpur hidup yang biasa orang cerita. Mata saya seperti tertutup lumpur. Beberapa saat kemudian, ombak besar menghantam kami dan kaki saya tiba-tiba menginjak lumpur. Saya yakin itu daratan. Saya tanya Sr. Hubertina Labok, TMM apakah dia juga bisa menginjak lumpur, tetapi dia bilang tidak. Kami tetap pegang tepi speed. Waktu itu, Sr. Hubertina Labok, TMM sudah mau menyerah, tetapi saya tetap merangkulnya. Saya ikat dia punya tangan. Setiap kali terhempas ombak, saya arahkan dia ke punggung speed. Kami bertahan. Pada saat ombak menghempas kami semakin ke tepi, saya menarik Sr. Hubertina Labok, TMM dan kami langsung berada di tepi pantai yang berlumpur. Pada saat kaki menginjak lumpur itu, saya rasa lega, seperti ada di surga,” kenang Pastor Sipri.

Berlindung di Atas Pohon
Waktu itu masih subuh. Gelap gulita. Hujan dan angin kencang masih berlangsung. Kini, Pastor Sipri dan Sr. Hubertina Labok, TMM menghadapi lumpur yang dalam. Daratan masih jauh dari mereka.

Pada saat berjuang melintasi medan lumpur di tepi laut itu, keduanya berpapasan dengan sebatang pohon bakau berukuran besar. Pastor Sipri minta kepada Sr. Hubertina Labok, TMM keduanya memanjat pohon itu dan beristirahat hingga pagi. Hal ini dilakukan untuk menghindari kemungkinan datangnya badai dan gelombang besar yang bisa menghempas keduanya kembali ke tengah laut.

Keduanya memanjat pohon bakau itu dan berlindung. “Di atas pohon, kami tidak tidur. Kami berjaga. Saya rasa dingin sekali karena tidak ada pakaian lagi di badan. Saya tanya suster, apakah dia memakai baju alas. Ternyata suster memakainya, sehingga saya minta dia punya jubah untuk tutup saya punya badan yang kedinginan itu,” kisah Pastor Sipri.

Pastor Sipri berkisah, keduanya turun dari pohon sekitar pukul 07.00 WIT, waktu itu hujan dan badai masih bergelora, tetapi hari mulai terang. Daratan masih agak jauh. Lumpur dalam. Sr. Labok, TMM bertubuh pendek. Ia tidak bisa jalan di atas lumpur.  “Lumpur dalam. Sr. Hubertina Labok, TMM pendek sehingga tidak bisa jalan. Saya suruh dia tidur baru saya tarik ke darat karena kalau paksa jalan kami dua pasti tidak sampai di darat,” tutur Pastor Sipri.

Mendapat Pertolongan
Sesampainya di darat, keduanya berinisiatif mencari makanan dan minuman. Mereka mencari siput dan pucuk pandan untuk dimakan. Mereka minum air hujan yang ada di bekas gelas aqua yang berada di hutan belantara itu. Walaupun kotor mereka meminumnya. Sesudah mengisi perut dengan makanan dan minuman seadanya, keduanya mencoba mencari bevak di sekitar daratan itu.

“Kami berjalan ke arah sebelah kiri, tetapi tidak menemukan bevak. Pada saat kembali, saya melihat ada perahu. Saya panggil dan Bapak itu datang. Dia tanya, ‘kamu siapa?’ Saya bilang, ‘Saya Pastor Sipri. Kami mengalami musibah.’ Bapa itu turun dari perahu. Dia peluk dan cium saya, lalu menangis. Saya tanya di Bapa itu, ini di mana? Bapa itu bilang, ‘Ini di Ocenep’. Saya lega karena ternyata kami masih di Asmat. Saya minta air minum dan sagu di Bapa itu. Ia memberikan air minum di jerigen lima liter dan dua potong sagu. Saya dan suster makan. Setelah itu, saya minta Bapa itu pergi ke Pastor Bavo di Basim untuk menyampaikan peristiwa kecelakaan yang kami alami. Bapa itu pun pergi. Rupanya, ia memberitahu beberapa keluarga yang dijumpainya di bevak yang berdekatan dengan tempat kami berada sehingga tidak lama kemudian, masyarakat datang. Mereka menangis sedih,” tutur Pastor Sipri mengenang kejadian memilukan itu.

Matahari beranjak naik. Suasana mendung masih menyelimuti daerah Ocenep. Masyarakat yang datang menangis sedih menyaksikan peristiwa yang menelan korban pelayan Allah itu. Di tengah situasi itu, Pastor Sipri dan Sr. Hubertina Labok, TMM tetap tegar. “Kamu jangan menangis. Kita harus balik speed untuk menemukan Sr. Cecilia Kelbulan, TMM,” ungkap Pastor Sipri. Tetapi, masyarakat menjawab, “Pastor, kami sudah dapat suster di samping speed.”

Setelah menunggu sekian lama, sekitar pukul 15.00 WIT, Pastor Bavo, Pr dan masyarakat dari Basim datang, lalu mengevakuasi jenasah Sr. Cecilia Kelbulan, TMM ke Basim. Di sana, jasad Sr. Cecilia Kelbulan, TMM dimandikan. Kemudian, pukul 16.00 WIT jasad Sr. Cecilia Kelbulan, TMM dibawa ke Agats. Perjalanan ke Agats berlangsung lancar. Pukul 18.00 WIT, iringan speed yang mengantar jasad Sr. Cecilia Kelbulan, TMM tiba di Agats. Isak tangis menyambut kedatangan salah satu pendidik di tanah Asmat ini. Jasadnya, terlebih dahulu dibaringkan di rumah komunitas TMM di Agats. Sesudah itu, dibawa ke gedung pusat pengembangan pastoral Keuskupan Agats.

Kamis, 2 Februari 2017, jasad Sr. Cecilia Kelbulan, TMM dikebumikan di tanah lumpur Asmat. Ia dimakamkan di samping gedung gereja Katedral yang sedang dibangun. Kematiannya dalam perjalanan ke Agats untuk mengurus pendidikan bagi anak-anak Asmat menyimbolkan jiwa pengorbanannya bagi segenap masyarakat Asmat. Ia rela mempertaruhkan nyawanya untuk masa depan anak-anak Asmat. Ia akan dikenang selamanya sebagai sosok guru yang melayani sampai akhir hayat.

Selamat jalan Sr. Cecilia Kelbulan, TMM. Kami mengiringi kepergianmu dengan doa sembari akan berjuang meneruskan semangatmu dalam melayani anak-anak Asmat. (Agats, 14 Februari 2017_Petrus Pit Supardi).

Foto Illustrasi 

Kamis, 29 Desember 2016

*Homili Sri Paus* sangat bagus sebagai pegangan menjalani hidup

Satu lagi dari Sri Paus Fransiskus yang sangat layak dibaca :

MENJADI MANUSIA YANG BAHAGIA

Alih bahasa oleh Rm. Ignatius Ismartono, SJ

"Engkau mungkin memiliki kekurangan, merasa gelisah dan kadangkala hidup tak tenteram, namun jangan lupa hidupmu adalah sebuah proyek terbesar di dunia ini. Hanya engkau yang sanggup menjaga agar tidak merosot.
Ada banyak orang membutuhkanmu, mengagumimu dan mencintaimu.

Aku ingin mengingatkanmu bahwa menjadi bahagia bukan berarti memiliki langit tanpa badai, atau jalan tanpa musibah, atau bekerja tanpa merasa letih, ataupun hubungan tanpa kekecewaan.
Menjadi bahagia adalah mencari kekuatan untuk memaafkan, mencari harapan dalam perjuangan, mencari rasa aman di saat ketakutan, mencari kasih di saat perselisihan.

Menjadi bahagia bukan hanya menyimpan senyum, tetapi juga mengolah kesedihan.

Bukan hanya mengenang kejayaan, melainkan juga belajar dari kegagalan.

Bukan hanya bergembira karena menerima tepuk tangan meriah, tetapi juga bergembira meskipun tak ternama.

Menjadi bahagia adalah mengakui bahwa hidup ini berharga, meskipun banyak tantangan, salah paham dan saat-saat krisis.

Menjadi bahagia bukanlah sebuah takdir, yang tak terelakkan, melainkan sebuah kemenangan bagi mereka yang mampu menyongsongnya dengan menjadi diri sendiri.

Menjadi bahagia berarti berhenti memandang diri sebagai korban dari berbagai masalah, melainkan menjadi pelaku dalam sejarah itu sendiri.

Bukan hanya menyeberangi padang gurun yang berada diluar diri kita, tapi lebih dari pada itu, mampu mencari mata air dalam kekeringan batin kita.

Menjadi bahagia adalah mengucap syukur setiap pagi atas mukjizat kehidupan.

Menjadi bahagia bukan merasa takut atas perasaan kita. Melainkan bagaimana membawa diri kita. Untuk menanggungnya dengan berani ketika diri kita ditolak.

Untuk memiliki rasa mantap etika dikritik, meskipun kritik itu tidak adil.

Dengan mencium anak-anak, merawat orang tua, menciptakan saat-saat indah bersama sahabat-sahabat, meskipun mereka pernah menyakiti kita.

Menjadi bahagia berarti membiarkan hidup anak yang bebas, bahagia dan sederhana yang ada dalam diri kita; memiliki kedewasaan untuk mengaku "Saya Salah", & memiliki keberanian untuk berkata "Maafkan Saya" ...

Memiliki kepekaan untuk mengutarakan "Aku membutuhkan kamu" ; memiliki kemampuan untuk berkata "Aku...

Dengan demikian hidupmu menjadi sebuah taman yang penuh dengan kesempatan untuk menjadi bahagia.

Di musim semi-mu, jadilah pecinta keriangan. Di musim dingin-mu, jadilah seorang sahabat kebijaksanaan.

Dan ketika engkau melakukan kesalahan, mulailah lagi dari awal. Dengan demikian engkau akan lebih bersemangat dalam menjalankan kehidupan.

Dan engkau akan mengerti bahwa kebahagiaan bukan berarti memiliki kehidupan yang sempurna, melainkan menggunakan airmata untuk menyirami toleransi, menggunakan kehilangan untuk lebih memantabkan kesabaran, kegagalan untuk mengukir ketenangan hati, penderitaan untuk dijadikan landasan kenikmatan, kesulitan untuk membuka jendela kecerdasan.

Jangan menyerah... Jangan berhenti mengasihi orang orang yang engkau cintai.....
Jangan menyerah untuk menjadi bahagia karena kehidupan adalah sebuah pertunjukan yang menakjubkan.

Dan engkau adalah seorang manusia yang luarbiasa!"

*Paus Fransiskus*

Kamis, 01 Desember 2016

Seeking Soulmate


Teman-teman OMK, fyi ini ada ACARA MENARIK BUAT PARA SINGLE
Yuk.... bareng-bareng  Nonton Film pendek "Seeking Soulmate" dan ikutin "Talk show" , pada :

  - Hari  dan tgl : Sabtu  dan 17 Des 2016
  - Waktu : 10.30 sd 12.00 WIB
  - Tempat  : Puri XXI , Puri Indah Mall, lantai 2, Jl.  Puri Indah Raya.  Jakarta Barat

  - Nara sumber : Romo Dr  Andang Binawan, SJ
  - Tiket dan Talk show,  hanya Rp.  30.000

Film pendek  "Seeking Soulmate", bercerita tentang Persahabatan dan kehidupan para Single.

Reservasi tiket :
Hp/wa  : 0816 980 392 Lauren

Sampai jumpa 😊

Selasa, 11 Oktober 2016

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario Merah Putih

Peristiwa-peristiwa dalam doa Rosario Merah Putih

Doau Umum/ Keluarga

PERISTIWA PERTAMA
Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau mengutus putra-puteri Indonesia untuk
berjuang mengusir penjajah dan membangun Indonesia. Banyak dari antara mereka
telah wafat. Semga kini mereka serupa dengan Allah Putra, bangkit dan bahagia di
Surga. Bimbinglah kami untuk hidup bersatu dengan Dikau dan meneruskan
perjuangan para pahlawan kami. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.

PERISTIWA KEDUA
Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau telah menganugerahkan Indonesia gemah ripah
loh jinawi. Karena itu kami bersyukur. Bimbinglah seluruh bangsa kami agar rasa
syukur itu dapat pula kami wijudkan dengan menjaga dan memelihara alam negeri
kami dan memanfaatkannya dengan penuh tanggung jawab bagi kesejahteraan
rakyat. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.

PERISTIWA KETIGA
Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau telah menciptakan aneka ragam budaya, suku,
agama, dan pelbagai perbedaan lainnya di dalam kehidupan berbangsa kami.
Jauhkanlah bangsa kami dari sikap intoleran, mau menang sendiri dan berpikiran
sempit yang mengarah ke perpecahan. Utuslah Roh-Mu agar bangsa kami menjadi
bangsa yang selalu menegakkan nilai-nilai Pancasila dan menghargai kebhinekaan
dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.

PERISTIWA KEEMPAT
Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau telah merestui kami untuk memilih para
pemimpin di Negara kami. Semoga mereka selalu bekerja dengan semangat berbagi
kasih dengan tulus. Melayani tanpa mengharapkan keuntungan diri atau atau golongan.
Mengusahakan keadilan dan kesejahteraan, kedamaian dan keamanan dalam karya
dan kebijakan. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.

PERISTIWA KELIMA
Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau selalu peduli kepada orang-orang kecil dan
terkucil. Semoga kepedulian-Mu itu merasuk dalam diri kami dan seluruh bangsa kami
sehingga kami memiliki semangat berbela rasa, mengusahakan keadilan dan penuh
kasih membantu kaum papa miskin, mereka yang berkekurangan dan berkebutuhan
khusus. dan kebijakan. Bunda Maria, doakanlah kami. Amin.

Minggu, 09 Oktober 2016

Pendaftaran Seminari Cadas Hikmat

Pendaftaran Seminari Cadas Hikmat

BIAYA PENDIDIKAN
Saat ini biaya pendidikan di Seminari Menengah Cadas Hikmat adalah Rp. 350.000 (tiga ratus lima puluh ribu rupiah). Biaya tersebut sudah mencakup biaya asrama (living cost), biaya pendidikan (uang sekolah bulanan, uang buku, uang seragam, dan uang gotong royong), dan uang saku seminaris sebesar Rp. 50.000/bulan

SYARAT  PENERIMAAN
1. Setiap calon seminaris harus lulus kelas IX (kelas 3 SMP).
2. Usia maksimal 17 Tahun pada saat mendaftar
3. Lulus test akademik (diselenggarakan oleh SMA St. Maria 1), wawancara, dan test kepribadian (diselenggarakan oleh Seminari Cadas Hikmat)
• Laki-laki katolik yang punya keinginan untuk menjadi imam/pastor
• Mengisi formulir dan kuesioner yang sudah disediakan (dapat diunduh di wwww.cadashikmat.org)
• Menyerahkan surat izin orang tua/wali
• Menyerahkan surat rekomendasi Pastor Paroki dan surat rekomendasi dari sekolah
• Menyerahkan foto copy:
a. surat permandian yang sudah diperbaharui,
b. surat krisma,
c. akte kelahiran,
d. Kartu Keluarga
e. Ijazah SD
f. Raport kelas VII, VIII, IX


PENDAFTARAN SISWA BARU
1. Pendaftaran Gelombang Pertama: 1 Oktober 2016 – 15 November 2016
Test Masuk Gelombang Pertama: 25 – 27 November 2016
Pengumuman Hasil Test : 22 Desember 2016

2. Pendaftaran Gelombang Kedua: 5 Januari – 5 Maret 2017
Test Masuk Gelombang Kedua: 24-26 Maret 2017
Pengumuman Hasil Test: 10 April 2017

ALAMAT PENDAFTARAN

Rektor Seminari Menengah Cadas Hikmat
Jl. Suryalaya Sari No. 5
BANDUNG 40265
Telp.  (022) 7322593
http://cadashikmat.org/

Kamis, 01 September 2016

10 Nasihat dari Paus Fransiskus untuk Semua Pasangan di Dunia ini Menggetarkan Hati

Menjalani hubungan yang serius seringkali tidak semudah kelihatannya. 10 nasihat dari Paus Fransiskus untuk semua pasangan di dunia ini menggetarkan hati netizen.

1. Sediakan waktu, bahkan jika kamu sangat sibuk

Cinta membutuhkan waktu dan tempat, semua di luar itu bisa dinomorduakan. Waktu dibutuhkan untuk berbicara tentang berbagai macam hal, menikmati waktu bersama, merencanakan hidup, mendengarkan satu sama lain, dan memandang pasangan Anda di mata mereka. Kadang kala masalah pasangan tidak besar, mereka hanya tidak pernah menikmati waktu bersama.

2. Dengarkan

Terkadang orang hanya ingin didengarkan. Pasangan Anda mungkin tak butuh solusi, mereka hanya ingin berbagi kesedihan, keputusasaan, ketakutan, kemarahan, dan betapa rapuhnya kondisi mereka saat itu.

3. Terima kekurangan

Kita harus mengerti bahwa setiap orang memiliki kebaikan dan keburukan masing-masing. Cinta tak harus sempurna namun kita harus menerima setiap kekurangan pasangan dan menghargai bahwa setiap manusia pasti tidak punya kesalahan.

4. Jangan tidur dengan kamarahan

Jangan pernah mengakhiri harimu dengan kemarahan. Selalu liputi keluargamu dengan kedamaian. Caranya bagaimana? Sangat mudah. Anda bisa memulainya dengan sebuah pelukan. Kadang kita tak butuh berkata-kata, sebuah pelukan saja bisa menyelesaikan pertengkaran.

5. Sebutkan tiga kata ajaib

Selalu ucapkan ‘Tolong’, ‘Terima Kasih’, dan ‘Maaf’. Tiga kata ini mungkin terdengar sangat biasa namun memiliki efek luar biasa saat diucapkan untuk pasangan.

6. Kepercayaan adalah kunci

Kita tidak perlu selalu curiga pasangan telah berbohong atau selingkuh. Cinta bukan soal mengontrol pasangan dan mencurigai setiap gerak-geriknya. Justru cinta baru bisa bertumbuh ketika kita memberikan rasa percaya dan membebaskan pasangan kita. Dengan rasa percaya itulah hubungan bisa bertumbuh.

7. Cinta butuh perjuangan

Jangan pernah mengharapkan kisah cinta yang sempurna. Cinta butuh perjuangan dan pengorbanan. Seperti pepatah yang berkata ‘fine wine matures with age’, makin banyak kamu berjuan dan berkorban untuk hubunganmu, maka hubungan itu akan makin dewasa dan baik seiring waktu.

8. Berbeda pendapat boleh, menyakiti jangan

Setiap pasangan pasti pernah berbeda pendapat, kuncinya adalah kalian tak boleh meyakiti dan marah. Kebanyakan pasangan berbeda pendapat soal hal yang kecil, jadi jangan sampai hal kecil itu membuat Anda dan pasangan saling merasa tak enak atau marah.

9. Baca buku dan tambah pengetahuan, jadilah menarik

Dalam berbicara dengan pasangan, jangan sampai kita menjadi bosan. Cobalah untuk selalu belajar dan menambah pengetahuan. Jadi dalam berbincang dengan pasangan kalian akan selalu saling belajar dan menambah pengetahuan.

10. Puaskan pasangan

Bagi pasangan yang sudah menikah, Allah memang menciptakan seks. Berhubungan seks dengan pasangan harus memuaskan bagi kedua belah pihak. Jangan sampai kita mencari kepuasan diri sendiri dan mengobjekkan pasangan. Seks akan menjadi pengalaman terindah ketida kedua belah pihak saling menikmatinya,Itulah 10 nasihat dari Paus Fransiskus untuk semua pasangan di dunia yang menggetarkan hati netizen.🙏🙏🙏

Kamis, 04 Agustus 2016

Menghayati Doa Bapa Kami


MENGHAYATI DOA BAPA KAMI
oleh:     



Jangan Menyebut BAPA, kalau hidup kamu tidak berlaku sebagai anak ALLAH

Jangan berkata KAMI, kalau hidup kamu  diselimuti keegoisan cinta diri

Jangan berkata YANG ADA DI SURGA, kalau hidup kamu hanya memikirkan perkara–perkara duniawi semata.

Jangan berkata DIMULIAKANLAH NAMAMU, kalau kamu sebenarnya tidak menghormati ALLAH dengan pantas

Jangan berkata DATANGLAH KERAJAANMU, kalau hidup kamu lebih mencari kebanggaan duniawi

Jangan berkata JADILAH KEHENDAKMU DIATAS BUMI SEPERTI DI DALAM SURGA, kalau hidup kamu menuruti kehendak sendiri dan tidak berani belajar menyangkal diri

Jangan berkata BERILAH KAMI REZEKI PADA HARI INI, kalau hidup kamu tidak peduli pada penderitaan sesama

Jangan berkata AMPUNILAH KESALAHAN KAMI SEPERTI KAMI PUN MENGAMPUNI YANG BERSALAH KEPADA KAMI, kalau hidup kamu masih dikuasai kebencian dan dendam

Jangan berkata JANGANLAH MASUKKAN KAMI KE DALAM PERCOBAAN, kalau hidup kamu tidak berani dan sungguh–sungguh berhenti berbuat dosa

Jangan berkata BEBASKANLAH KAMI DARI YANG JAHAT, kalau kamu sendiri tidak tegas menolak segala kejahatan

Jangan berkata AMIN, kalau kamu tidak serius menghayati dan mengamalkan DOA BAPA KAMI.

Kamis, 28 Juli 2016

Doa pada Jam 3 siang (Jam Kerahiman Ilahi)

Ya Yesus,

Engkau wafat, namun sumber kehidupan tercurah bagi jiwa-jiwa,
Dan lautan belas kasih Allah, terbuka luas bagi seluruh dunia,
O mata air kehidupan, belas kasih Allah yang tak terpahami,
lingkupilah seluruh dunia, dan curahkanlah diri-Mu atas kami.

O, Darah dan Air, yang tertumpah dari Hati-Mu ya Yesus,
sebagai mata air belas kasih-Mu bagi kami,
aku mengandalkan Engkau, Yesus.

Allah yang Kudus, Kudus dan berkuasa,
Kudus dan kekal, kasihanilah kami,
dan seluruh dunia ….. 3x

Yesus, Raja Kerahiman Ilahi,
aku mengandalkan Engkau.

Amin


(dapat dilanjutkan dengan Doa Koronka)

Kamis, 02 Juni 2016

Berkah Dalem Artinya Apa?

*Berkah Dalem* _Artinya Apa?_
*Hireka Eric*
Saya bukan orang Jawa, maka saya sering penasaran ketika membaca frase "berkah dalem" yang jamak dilontarkan di kalangan teman-teman Jawa saya.
Apa sih artinya?
Apakah ada makna tertentu di balik frase ini?
Iseng-iseng saya memposkan pertanyaan ini pada status Facebook .
Dan ternyata tanggapan yang saya terima cukup beragam.
Seorang kawan bilang, "Tuhan memberkatimu."
Saya pun menanggapi, "Kok, nggak ada kata Gusti -nya?"
Si kawan itu balas menjawab, "Ngga usah pake Gusti , semua org juga udah tahu maksudnya ..."
Dengan polos saya pun menyimpulkan, "Ooo... berarti, dalem itu sama dengan 'dalam' ya?"
Tak berapa lama kemudian, seorang kawan Jesuit ikut nimbrung.

Pembahasannya lumayan panjang: "Dalem itu rumah."
Kata itu dipakai sebenarnya oleh para abdi di Keraton.
Dengan menyebut dalem, itu menunjuk pada Sultan, sang empunya dalem (rumah, kraton).
Bagi orang Jawa, tidak sopan menunjuk langsung orangnya (ad hominem).
Maka secara implisit menunjuk melalui rumahnya.
Kita kenal pula sampeyan , yang berarti 'kaki', atau panjenengan, yang berarti 'tongkat.'
Panjenengan paling halus, karena semakin 'jauh' dari subyek yg dimaksud."
Saya mengangguk-angguk.
Ooo, begitu ceritanya.
Tetapi tak lama, seorang kawan Jesuit yang lain juga mengomentari perihal sisi historis frase ini.
"Asal usul historis:
Pada waktu itu, umat Katolik memakai sapaan: Deo gratias . Ini berlaku di segala waktu dan tempat.
Lalu muncul "masalah", bagaimana ungkapan dalam bahasa Jawa untuk menyatakan sapaan serupa, mengingat bahwa sapaan pastoral dalam bahasa lokal tidak/belum ada.
Seorang pastor Jesuit di sebuah paroki di desa lalu menciptakan istilah berkah Dalem.
Lama kelamaan ini diterima umat luas (khususnya di Yogyakarta dan Jawa Tengah) bahkan sampai detik ini masih dipakai.
Pastor tersebut  nyaris tidak disebut dalam sejarah, dan ungkapan tersebut tidak dijadikan quotation individual supaya mengumat.
Ini sisi lain kerendahan hati orang tsb. kini ia sudah berbahagia di surga."
Dia melanjutkan dengan penjelasan etimologis: "Coba lihat paralelnya:
1⃣ Deo - Deus - Gusti - Sampeyan Dalem -> (Dalem)
2⃣ Gratias - Gratia - (Grace) - berkat / berkah
Tapi, ini makna etimologis.
Makna spiritualnya bagi perambatan iman umat melampaui bahasa.
Meski tidak tahu karakter historis dan teologisnya, sebagai ekspresi iman, kata-kata tersebut menjadi 'cara berada' umat Katolik saat ini.
Sapaan ini melampaui tempus , signum, dan verbum itu sendiri.
Ungkapan ini ada berkaitan dengan sense partikular umat tertentu.
Bukan secara global-mondial-universal.
Berkah Dalem 
Deo Gratias


Rabu, 25 Mei 2016

Seminar Doa Kontemplatif

Seminar Doa Kontemplatif

Kali ini bahan pembahasan adalah Doa Kontemplatif=Doa Hati=Doa Merenung
Doa kontemplatif = doa perenungan tapi bukan  "merenung sambil berdoa."

Doa kontemplatif, berpusat pada pengalaman mistis dengan Allah. 

Mistisisme pasti bersifat subyektif, dan bukan berdasarkan kebenaran atau fakta.

Firman Allah diberikan kepada kita agar landasan iman dan kehidupan kita sungguh berdasarkan kebenaran,bukan pengalaman semata (2 Tim 3:16-17).


Seminar diadakan pada
Hari / Tanggal / Tempat: Sabtu 4 Juni 2016 pk.9 sd 13, di Shekinah

Alamat: JL. Gajah Mada No. 3-5 Komplek Duta Merlin Blok B No. 41-43 10130, Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

Pembicara: Romo Budi Santoso, Msc  (Komisi Spiritual Tarikat MSC)

Pengganti biaya konsumsi Rp.30.000,- per orang

Segera mendaftar ke Helen 634-2141, 0815 1009 9588 (SMS / WA)

Terimakasih 
GBU all
salam,
Helen

Senin, 23 Mei 2016

Paus Fransiskus beri pengakuan dosa untuk remaja di lapangan Basilika bersama romo lainnya.

Paus Fransiskus memberi kejutan di Lapangan Santo Petrus di mana ia memberi pengakuan dosa pada anak laki-laki dan perempuan bersama romo lainnya di lapangan Basilika tanpa ruang khusus.

Simak foto-fotonya:






_CG19573a_50806490.jpg



papaconf2_50806612.jpg





Selasa, 17 Mei 2016

Percakapan 2 Generasi dalam Keluarga Katolik. (terinspirasi dari kasus nyata)

Percakapan 2 Generasi dalam Keluarga Katolik.
(terinspirasi dari kasus nyata)

Anak : Pah, saya boleh tidak menikah dengan si A.

Bapak : Lho bukankah kamu beda iman?, terus nanti pernikahannya dengan cara apa?

Anak : Ya dengan cara agamanya A.

Bapak : Lho, kamu laki-laki dengan mudahnya mengatakan begitu?. Kamu kan calon imam keluarga.

Anak : Mau bagaimana lagi?, dia dan keluarganya tidak mau memakai cara katolik. Apalagi pernikahan di Gereja katolik terlalu ribet.

Bapak : Ribetnya mengurus pernikahan di Gereja Katolik tidak  ada apa-apanya dibanding ribetnya nanti setelah kamu menikah. Dan lebih berat lagi dalam mempertahankan perkawinan. Kalau kamu tidak mau ribet, ya kamu belum layak menikah dan jadi seorang kepala rumah tangga.Bukankah ribetnya mengurus macam ini dan itu   tentang surat-surat penting keluarga  nanti itu juga tanggung jawabmu?

Anak : Kan nanti kami bisa ke tetap pada iman masing-masing.

Bapak : Yakin kamu dengan ucapanmu? Saat ini saja kamu tidak mampu berjuang demi iman kamu, apalagi nanti jika kamu sudah menikah.Barang siapa menikah dengan beda iman, maka tanggung jawabnya jadi 2 kali lebih berat. Banyak kasus yang mula-mula baik baik saja, tetapi setelah berlangsungnya waktu maka salah satu bisa mengingkari komitmen awal.

Anak : jika ikut agama A kan menurut Gereja Katolik di agama lain juga ada kebenaran.

Bapak : Ada kebenaran bukan berarti  seluruh kebenaran  ada di sana, kalau masalah itu dalam diri seorang penjahat  juga ada benarnya. Tapi keseluruhan kebenaran dan Rahmat pengudusan hanya ada di Gereja katolik.

Anak : Tapi bukankah orang yang karena ketidaktahuan akan Kristus asal hidup dengan hati nuraninya juga diselamatkan.

Bapak : kamu diluar konteks itu. Kamu sudah tahu Kebenaran Kristus dan sudah dibaptis dengan nama Tritunggal, maka jika kamu meninggalkan itu ,maka kamu termasuk menghujat Roh Kudus.

Tahu tho konsekuensinya?.

Jika kamu sengsara di dunia maka aku masih bisa menghibur, jika kamu kekurangan materi mungkin saya masih bisa membantumu, tapi jika kamu sengsara di alam baka, saya bisa apa? Yang ada hanya penyesalan. Mau kamu membuat percobaan? Hidup itu sekali maka jika kita sudah meninggal tidak bisa lagi diulang.

Dan diluar itu saya harus mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah dan manusia.

Makanya, kalau sudah tahu ada halangan mengapa rasa itu kamu pelihara? Kalau kamu mengatakan tidak bisa lagi berpisah dengan dia, apa dia akan bersamamu selama hidupmu?.

Suatu saat dia akan diambil dari padamu, suatu saat juga dia bisa tidak setia kepadamu dan minta berpisah denganmu bukan?. Karena didunia ini hanya Allah yang kekal dengan  kesetiaan.

Maaf dalam kasus ini saya sebagai bapak juga salah, karena saya sampai kecolongan dengan kasus pendekataanmu dengan dia walaupun kamu berada jauh dari kampung halaman.

Selamat untuk merefleksikan terutama buat yang  punya anak ABG maupun dewasa dan juga bagi OMK yang sudah siap menikah.

Berkah Dalem.

Selasa, 10 Mei 2016

Romo Markus Solo Kewuta SVD, Pastor Indonesia yang Jadi Salah Satu Pejabat di Vatikan



Kebanggaan bangsa Indonesia umumnya, dan umat Katolik khususnya :

Romo Markus Solo Kewuta, Pejabat Vatikan Pertama Dari Indonesia

Nama Lengkap: Markus Solo Kewuta

Tempat dan Tanggal Lahir: Lewouran, Flores Timur, 4 Agustus, 1968

Jabatan : Pontifical Council For Interreligious Dialogue

Pendidikan:

- SD Lewouran Flores

- SMP Lewotobi Flores

- Seminari Menengah San Dominggo, Flores Timur

- Filsafat Ledalero, Flores

- Inssbruck University, Austria - Islamology

- Al Azhar University, Mesir - Sejarah Budaya Arab dan Islamologi

- Gregoriana University, Vatican - Filsafat dan Teologi

Fasih Berbahasa: Arab, Italia, Inggris, Jerman, Mandarin, dan Latin.

Pada bulan Juli tahun lalu, Markus Solo Kewuta resmi diangkat menjadi
anggota Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama. Andai ayahnya masih hidup, pastilah ia akan bangga melihat anaknya menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam jabatan terhormat itu.

Markus lahir di kampung Lewouran, Flores Timur (4/8/68). Ayahnya, Nikolaus Kewuta adalah seorang petani sederhana sementara ibunya Getrurd bekerja sebagai ibu rumah tangga. Kedua orangtua ini telah meninggal dunia.

Ayahnya meninggal tahun 2005
sedangkan ibunya tahun 1985. Markus adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Pulau Flores, khususnya di kampung
halamannya, mayoritas penduduk beragama Katolik. Tidak banyak umat dari agama lain. Markus mulai
menyadari kenyataan pluralitas Indonesia melalui buku-buku yang
dibacanya. Lelaki yang selalu menjadi juara kelas ini memang rajin membaca sejak Sekolah Dasar. Mulai saat itu, ia juga tertarik mengenal agama lain khususnya Islam.

Keinginan Markus mengenal agama
Islam mulai terpenuhi saat mengikuti kuliah Islamologi di Seminari Tinggi Ledalero.

Selesai studi Filsafat di Ledalero, ia meneruskan studi Teologi di Austria (1992-1997). Di Austria, ketertarikannya pada Islam tetap melekat.

Skripsi yang ia tulis juga berkaitan dengan agama Islam, judulnya: Humanisierung der Handhabung des Gesetzes im Koran (Humanisasi Penerapan Hukum Agama Islam dalam al-Qur’an).

Setelah melewati proses screening,
termasuk wawancara, Januari 2007
Markus mendapat panggilan untuk
bergabung dengan PCID. ”Rasanya
seperti mimpi. Saya tak pernah
membayangkan dapat bergabung
dalam tim Penasihat Sri Paus”, tutur
Markus.

Juli 2007, Markus, yang kerap disapa
Padre Marco, diterima resmi bekerja di PCID. Ia menempati Desk Dialog
Kristen-Islam untuk wilayah Asia,
Amerika Latin dan Afrika Sub-Sahara.

Menjadi orang Indonesia pertama yang duduk dalam Dewan Kepausan untuk Dialog Antar Agama merupakan kebanggaan tersendiri. Markus menyadari, tugas yang diembannya tergolong berat. Ia tak tahu apa yang akan terjadi kelak pada dirinya. Namun, ia tahu bahwa dirinya harus bekerja keras dengan semangat pengabdian total. Itulah sumbangsih yang dapat ia berikan untuk Gerejanya yang ia cintai.

Kamis, 24 Maret 2016

WAJAH KEMANUSIAAN YANG TERLUKA

WAJAH KEMANUSIAAN YANG TERLUKA

oleh I Suharyo
Kompas,  24 Maret 2016

Dalam artikel berjudul "Zaman Edan" (Kompas, Minggu, 20 Maret 2016) diceritakan tentang seorang perempuan muda bernama Ayak, berusia 18 tahun, yang bernasib malang.

Dia kehilangan kedua orangtuanya ketika pemberontak menyerang desanya di Sudan. Ketika berusaha menyelamatkan diri, Ayak ditangkap pemberontak dan diperkosa ramai-ramai. Karena itu, ia hamil dan mengidap HIV. Meskipun demikian, ia siap memelihara anaknya yang selanjutnya menjadi satu-satunya anggota keluarganya.

Ada sekian banyak kisah tentang kemanusiaan yang terluka ketika martabat manusia direndahkan serta hak-hak dasarnya disangkal demi kekuasaan, uang, dan berbagai kepentingan lainnya. Meskipun kehormatannya dicederai, Ayak tampil sebagai pribadi yang sungguh-sungguh bermartabat. Sementara mereka yang tampaknya berkuasa, sebenarnya menyandang luka-luka kemanusiaan yang bernanah.

Luka kemanusiaan

Luka-luka kemanusiaan seperti itu merupakan salah satu unsur dominan yang mewarnai Pekan Suci yang setiap tahun dirayakan umat Kristiani.

Pada Minggu, 20 Maret 2016, Pekan Suci dimulai. Dalam Ibadah Sabda dibacakan Kisah Sengsara Yesus (Lukas 22: 63-23: 56). Luka-luka ini tampak dalam beberapa episode, misalnya dalam diri orang-orang yang menahan Yesus, mengolok-oloknya, menutupi matanya, kemudian memukulnya sambil bertanya, "Coba katakan, siapakah yang memukul engkau?"

Mereka adalah orang-orang bawahan yang biasa tidak dihargai, direndahkan, dan harus melakukan kehendak yang punya kuasa atas mereka. Ketika ada kesempatan, luka-luka mereka tampak dalam kekerasan yang mereka lakukan, sekadar untuk menunjukkan bahwa mereka juga punya kekuasaan.

Luka-luka seperti itu tidak hanya tampak dalam orang-orang bawahan, tetapi juga dalam diri pembesar, seperti para anggota Mahkamah Agama, Pilatus, dan Herodes. Dengan ringannya, tanpa perasaan bersalah sedikit pun, mereka mendakwa Yesus dengan dakwaan dan-tentu saja-saksi-saksi palsu.

Merendahkan martabat

Demikian juga Pilatus. Ia mempunyai wewenang penuh untuk membebaskan Yesus, tetapi tidak melakukannya karena kepentingan pribadinya.

Sementara itu, Herodes Antipas menunjukkan luka jenis lain lagi. Herodes secara harfiah berarti mulia, tetapi kelakuannya sama sekali tidak mulia. Ia, antara lain, menceraikan istrinya dan merebut istri saudaranya yang bernama Herodes Philipus.

Yang ia lakukan terhadap Yesus sama sekali tidak menunjukkan wibawanya sebagai pemimpin. Sebaliknya yang terungkap adalah luka-luka batinnya. Tokoh-tokoh ini semua sadar atau tidak sadar merendahkan martabat mereka sendiri.

Di dalam kisah selanjutnya (Lukas 23: 33-43) ditampilkan konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka dan kemanusiaan yang sejati secara amat indah. Konfrontasi ini terasa dalam dialog antara dua penjahat yang disalibkan bersama Yesus dan Yesus yang tergantung di salib. Luka-luka kemanusiaan terbaca dalam kata-kata salah seorang penjahat yang, ketika tergantung di salib, masih menghujat dan berkata, "Bukankah engkau adalah Kristus? Selamatkanlah dirimu dan kami!"

Penjahat yang satu lagi mengungkap luka-luka kemanusiaan yang sama, tetapi dalam proses disembuhkan. Ia berkata kepada kawannya, "Kita layak dihukum sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah".

Dalam saat-saat yang sangat menentukan, terjadi konfrontasi antara kemanusiaan yang terluka yang diwakili oleh penjahat yang menghujat dan kemanusiaan sejati yang tampak dalam diri Yesus yang diam. Dalam diri penjahat yang lain, konfrontasi ini menyadarkan dirinya bahwa ada kemanusiaan yang berwajah lain. Lebih daripada itu, konfrontasi ini juga menggerakkan proses transformasi dalam dirinya. Buahnya terungkap dalam kata-kata yang ditujukan dengan tulus kepada Yesus yang tergantung di salib, "Yesus, ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja". Luka-lukanya disembuhkan dan ia menjadi sahabat dalam penderitaan.

Tahun ini, umat Katolik merayakan Paskah ketika Gereja sedunia merayakan Tahun Suci Luar Biasa Kerahiman Allah. Logo yang diciptakan dalam rangka Tahun Suci ini menyampaikan pesan amat kuat mengenai luka-luka kemanusiaan. Logo itu menggambarkan Yesus yang menggendong seseorang di bahunya. Luka-luka yang tergambar jelas pada kedua kaki dan tangan Yesus menjadi lambang luka-luka kemanusiaan dengan berbagai macam wajahnya.

Mata belas kasih

Salah satu mata dari orang yang digendong tidak tampak, berada di belakang mata Yesus sehingga, meskipun ada dua orang, mata yang tergambar hanya tiga. Pesannya jelas, yaitu agar umat Kristiani memandang luka-luka kemanusiaan itu dengan mata Yesus, yaitu mata yang berbelas kasih, mata yang berbela rasa, mata yang mencerminkan wajah Allah yang Maharahim dan menyembuhkan.

Berita sehari-hari yang termuat dalam koran dan disiarkan oleh radio dan televisi mengajak kita untuk menyadari dengan jujur bahwa banyak luka kemanusiaan dengan berbagai wajahnya, baik secara terbuka maupun tersembunyi, ada di tengah-tengah kehidupan bersama kita sebagai bangsa.

Luka-luka itu bisa disebabkan oleh peristiwa-peristiwa getir di masa lampau ataupun di masa sekarang. Semoga perayaan Pekan Suci yang berpuncak pada Paskah menyadarkan umat Kristiani akan adanya luka-luka itu dan memahaminya dengan mata bela rasa.

Dan semoga kesadaran ini mendorong terjadinya proses penyembuhan bukan hanya penyembuhan pribadi, melainkan juga penyembuhan kolektif. Selamat merayakan Pekan Suci.

I SUHARYO

Uskup Keuskupan Agung Jakarta